: WIB    —   
indikator  I  

Ada risiko tahun politik

Oleh Ali Tranghanda
( Executive Director Indonesia Property Watch )
Ada risiko tahun politik

Setelah tahun 2013 silam tumbuh tinggi, dua tahun belakangan pasar properti kita dalam tahap mencari titik keseimbangan baru. Makanya harga properti yang tinggi lantas terkoreksi. Semula, pelaku industri meyakini akhir tahun 2017 titik keseimbangan baru itu bakal tercapai.

Namun, perjalanan industri properti tahun lalu mendapatkan sentimen negatif dari isu politik serta isu suku, ras, agama dan antargolongan (SARA) di DKI Jakarta. Sentimen tersebut berdampak secara nasional dan mempengaruhi psikologis pasar. Akibatnya investor memilih wait and see ketimbang membelanjakan duit.

Padahal sebenarnya kelas menengah dan atas sudah siap berinvestasi. Lihat saja dana repatriasi sekitar Rp 50 triliun itu mengendap di perbankan nasional. Jadi, kalau kita lihat  daya beli besar sekali pada tahun 2018 ini

Nah, apa yang terjadi pada tahun 2017 bisa berlanjut pada tahun ini. Periode yang paling sensitif bagi pasar properti adalah semester II 2018 sampai semester I tahun 2019.

Namun bukan berarti pasar properti kita bakal jatuh. Kemungkinan, pasar properti hanya agak tertahan hingga Mei tahun depan. Saya pikir pencapaian tahun 2018  minimal sama dengan 2017. Bahkan, ada sedikit peluang kenaikan yang terlihat dari aksi beberapa perusahaan properti merilis produk baru.

Di proyek landed house atau rumah tapak, saya memprediksi proyek dengan harga Rp 500 juta–Rp 1 miliar per unit di pinggiran kota bakal kembali jadi primadona. Tren tersebut sama seperti tahun lalu. Kalau lokasi sekitar Jakarta misalnya Balaraja, Banten dan Cikarang, Jawa Barat.

Proyek berkonsep transit oriented development (TOD) kemungkinan juga bakal booming pada tahun ini. Apalagi penggarap proyek TOD bukan cuma perusahaan swasta tapi juga BUMN besar seperti PT PP (Persero) Tbk, Perumnas, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan lainnya. Oleh karena itu, saya menduga apartemen kelas menengah bakal tumbuh di perkotaan.         

 

Reporter : Andy Dwijayanto

Feedback   ↑ x