: WIB    —   
indikator  I  

Agama melawan penindasan ekonomi

Oleh Ahmad Ubaidillah
( Dosen Ekonomi Syariah di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan )
Agama melawan penindasan ekonomi

Sudah jamak diketahui bahwa agama seringkali dijadikan tameng untuk kepentingan pribadi dan kelompok, baik kepentingan ekonomi maupun politik. Agama kerapkali dijadikan sumber untuk mendulang kekayaan dan meraup kekuasaan. Agama, sebagai sumber keadilan bagi semua manusia, diabaikan.  

Agama telah disalahgunakan tidak hanya oleh para penguasa, tapi juga kelompok kepentingan. Setiap tradisi keagamaan memiliki sejarah berpihak pada penguasa yang berkuasa. Para pemimpin agama, meski bertindak sebagai orang saleh, tak jarang tidak mewakili kepentingan masyarakat yang lebih besar. Mereka menjual agama untuk keuntungan mereka sendiri atau berpihak pada perusahaan kapitalis yang melanggengkan kemiskinan dengan upah murah buruh.

Tidak ada agama yang terkecuali dalam hal ini. Semua agama melawan penindasan dalam bentuk apa pun, terutama penindasan ekonomi. Jika kita telusuri teks kitab-kitab suci dari agama-agama, semua agama berpihak pada kalangan lemah.

Dalam sejarah, berapa banyak umat beragama yang tertindas dibebaskan oleh pemimpin agama meraka. Sayang, para pemimpin agama dewasa ini sering berpihak pada para penindas dan pelaku eksploitasi. Mereka sering menggunakan agama sebagai penutup yang sah untuk memenuhi ambisi pribadi mereka.

Padahal, sebagian besar agama dimulai sebagai gerakan protes melawan penindasan dan eksploitasi, namun segera dibajak oleh kepentingan pribadi dengan satu atau lain cara. Bahkan, revolusi Prancis dan Rusia menyerah pada kekuatan hegemonik atau eksploitatif meskipun cita-cita mereka banyak mengilhami bahkan sampai hari ini.

Agama dan peran sosial ekonominya juga harus dinilai berdasarkan kekuatan sosial, ekonomi dan politik yang kompleks yang bekerja di masyarakat. Sebuah usaha harus dilakukan untuk mempelajari agama dan cita-cita keagamaan melalui perintah-perintah kitab suci dan bagaimana mereka ditafsirkan dan dipraktikkan dalam kondisi sosial ekonomi dan politik yang ada.

Semua agama menekankan pada kesetaraan dan keadilan sebagai nilai fundamental. Sebenarnya, para nabi dari tradisi keagamaan ini menjadi bagian masyarakat yang lebih lemah. Mereka harus berjuang tanpa henti untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kepentingan pribadi yang kuat, baik politik maupun ekonomi. Para nabi ini dianiaya, namun mereka tetap berdiri tegak. Selama masa hidup mereka, agama memang merupakan pilihan bagi kaum miskin dan tertindas. Kaum marginal.

Feedback   ↑ x
Close [X]