kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.590
  • EMAS590.870 -0,68%

Menakar likuiditas di industri perbankan

Selasa, 07 Agustus 2018 / 12:35 WIB

Menakar likuiditas di industri perbankan

Belakangan ini isu keketatan likuiditas kembali mengemuka. Hal ini tak lepas dari data perbankan yang memperlihatkan pertumbuhan kredit secara tahunan sudah lebih tinggi ketimbang dana pihak ketiga (DPK). Mengutip data Statistik Perbankan Indonesia (SPI), per Mei 2018 kredit telah tumbuh 10,55%, sedangkan DPK hanya 6,47%.

Jika kita mengambil rentang waktu sepanjang tahun 2017 hingga Mei 2018, kondisi kredit yang tumbuh lebih tinggi dari DPK sejatinya mulai terjadi sejak Maret 2018, dengan gap yang semakin melebar, dari 1,11% menjadi 4,08%. Adanya perubahan pola hubungan antara kredit dan DPK, diikuti gap yang cenderung melebar telah menimbulkan anggapan, saat ini perbankan tengah menghadapi keketatan likuiditas. Tetapi, benarkah demikian?

Untuk menilai keketatan likuiditas, indikator yang jamak digunakan banyak kalangan adalah loan to deposit ratio (LDR), yakni perbandingan antara penyaluran kredit dengan perolehan DPK. Semakin tinggi LDR, semakin banyak DPK yang mengalir ke kredit. Imbasnya, likuiditas yang tersedia semakin sedikit. Sebagai gambaran, LDR pada Mei 2018 telah mencapai 92,39%, meningkat ketimbang awal 2017 yang tercatat 90,08%. Dari gambaran ini memang terlihat likuiditas bank mengetat.

Meski begitu, semata-mata menggantungkan pada indikator LDR tentu belum cukup. Pasalnya, dalam menggelontorkan kredit, bank tidak hanya mengandalkan sumber dana yang berasal dari DPK, tetapi juga dari sumber lain (wholesale funding) seperti pinjaman dari bank lain, penerbitan surat-surat berharga seperti obligasi, medium term note dan negotiable certificate deposits, dan pinjaman dari pihak ketiga, termasuk juga utang luar negeri.

Tidak hanya itu, laba yang diperoleh tahun lalu pun (retained earnings) dapat juga disalurkan kembali menjadi kredit. Bahkan, ada bank yang menggunakan dana setoran modal pemegang sahamnya, terutama pada bank yang tidak memiliki akses di pasar modal. Sementara untuk Kantor Cabang Bank Asing seringkali mengandalkan dana pinjaman dari kantor cabang atau pusat luar negerinya.

Kembali dengan LDR perbankan posisi Mei 2018 yang tercatat 92,39%. Angka ini berasal dari jumlah penyaluran kredit sebesar Rp 4.930,48 triliun dan DPK Rp 5.336,58 triliun. Jika sumber pendanaan lain diperhitungkan, maka total sumber dana perbankan mencapai Rp 6.791,55 triliun. Alhasil, hanya 72,60% sumber dana yang mengalir ke kredit. Ini menunjukkan perbankan kita sesungguhnya masih likuid.

Kondisi perbankan yang ekses likuiditas tersebut terkonfirmasi dari penempatan bank di aset likuid yang cukup besar ,seperti penempatan pada Bank Indonesia (BI) sekitar Rp 661,48 triliun dan surat berharga Rp 1.000,33 triliun. Sementara rilis data BI juga menunjukkan hal sama. Jumlah dana perbankan di instrumen operasi moneter BI per 20 Juli 2018 ternyata masih cukup besar, yakni mencapai Rp 291,6 triliun.

Dari sisi individu bank, dengan mengambil contoh Bank Shinhan Indonesia, terlihat, meskipun LDR bank tersebut lebih dari 100%, bahkan 300%, tapi likuiditasnya masih terbilang aman. Mengutip Laporan Keuangan Publikasi Triwulan I 2018, LDR Bank Shinhan Indonesia tercatat 321,37%, terdiri dari kredit Rp 7,25 triliun dan DPK hanya Rp 2,26 triliun.

Setelah menelisik lebih dalam, sumber dana kredit bank tersebut ternyata juga ditopang oleh modal disetor. Termasuk agio Rp 3,97 triliun, pinjaman dari bank lain Rp 2,78 triliun dan laba ditahan Rp 0,31 triliun. Jika dana tersebut diperhitungkan, maka hanya 77,79% dana bank yang ditanamkan di kredit. Alhasil, terdapat likuiditas yang masih cukup besar yakni Rp 2,07 triliun.

Selain mengacu likuiditas yang ada di perbankan, untuk menilai keketatan likuiditas kita perlu juga menimbang kondisi likuiditas di pasar (market liquidity), baik di pasar uang antar bank (PUAB) maupun di pasar aset. Pasalnya, bank yang memerlukan likuiditas dapat meminjam di PUAB atau menjual asetnya yang berupa surat berharga seperti surat berharga negara (SBN).


Reporter: Tri Adi

TERBARU
MARKET
IHSG
-30,06
5.786,53
-0.52%
 
US/IDR
14.621
-0,03
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×