: WIB    —   
indikator  I  

Alarm krisis di Asia

Oleh Bayu Kariastanto
( Ekonom pembangunan yang bekerja di lembaga pemerintah )
Alarm krisis di Asia

Moodys akhir Mei lalu menurunkan peringkat utang China dari Aa3 menjadi A1. Ini merupakan penurunan pertama peringkat China sejak 1989. Moodys memandang kemampuan keuangan Tiongkok dalam jangka panjang akan melemah seiring dengan terus meningkatnya utang dan turunnya potensi pertumbuhan ekonomi.

Secara fundamental, penurunan peringkat China hanya sedikit memiliki dampak. Jangan lupa, Negeri Tembok Raksasa itu masih nyaman berada dalam kelompok investment grade. Namun, penurunan rating ini dapat menjadi early warning untuk kita semua.

Penurunan rating ini sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan. Rasio utang telah lama menjadi tolak ukur kesehatan perekonomian suatu negara.

Basel for International Settlement (BIS) menggunakan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai indikator peringatan dini untuk menilai risiko terjadinya krisis keuangan di sebuah negara.

Jika deviasi rasio tersebut terhadap tren jangka panjangnya di atas 15% dari GDP, risiko terjadinya krisis keuangan di negara tersebut dianggap tinggi. Semakin lama deviasi tersebut berlangsung, semakin tinggi pula risiko terjadinya krisis.

Deviasi rasio kredit terhadap PDB mampu memprediksi krisis keuangan yang telah terjadi sebelumnya, seperti bubble burst di Jepang 1989, krisis keuangan yang melanda negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand dan Indonesia di tahun 1997.

Krisis terakhir yang terdeteksi adalah krisis kredit yang melanda negeri-negeri Eropa semacam Irlandia, Yunani dan Spanyol di tahun 2008.

Permasalahan kredit China telah berlangsung relatif lama dan indikator early warning juga telah berada pada level yang mengkhawatirkan. Deviasi rasio credit terhadap PDB China sejak tahun 2013 telah berada di atas 15% dari PDB. Bahkan pada kuartal pertama 2016 telah menyentuh level 29%.

Memang, rasio tersebut saat ini terus menurun akibat kebijakan pemerintah China mengendalikan pertumbuhan kredit, terutama kredit dari shadow banking. Namun rasio kredit terhadap PDB China sampai saat ini masih sangat tinggi.

Pemerintah Tiongkok memang berhasil mengendalikan pertumbuhan kredit perbankan dengan menerapkan kebijakan pembatasan kegiatan kredit perbankan sejak tahun 2010.

Namun, permintaan kredit masih tinggi, khususnya permintaan dari sektor-sektor yang memiliki risiko tinggi, yang telah masuk ke dalam daftar terlarang untuk menerima kredit dari bank.

Tingginya permintaan kredit mendorong pasar mencari jalan  untuk memenuhi permintaan tersebut. Jalan baru tersebut adalah pembiayaan melalui shadow banking. Mayoritas aktivitas shadow banking sebenarnya juga difasilitasi oleh perbankan.

Pengetatan ketentuan penyaluran kredit perbankan disiasati dengan penyaluran kredit secara off balance sheet. Skema yang paling populer adalah skema entrusteed loan.

Dalam skema ini, bank bertindak sebagai trustee, atau perantara, yang menangani pemberian kredit dari suatu pihak ke pihak lainnya (direct lending).

Feedback   ↑ x
Close [X]