: WIB    --   
indikator  I  

Aljabar kognitif pemilih pilkada

Oleh Jony Eko Yulianto
( Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya )
Aljabar kognitif pemilih pilkada

Jika kita cermati, ada yang menarik dari hiruk pikuk aktivitas pemilihan kepala daerah di tahun ini, yakni diskursus soal kedatangan pasangan calon (paslon) dalam acara debat.

Apakah paslon kepala daerah perlu datang dalam debat di luar yang diselenggarakan oleh KPU? Urgensi pertanyaan ini semakin meruncing seiring waktu pemilihan mendekat, dengan penjelasan yang sama logisnya baik pada jawaban “perlu” maupun “tidak perlu”.

Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Apakah isu ini sebenarnya memiliki penjelasan teoritik atau hanya sekadar wacana biasa?

Dalam ilmu psikologi sosial, isu hadir tidaknya paslon dalam acara debat sebenarnya termasuk dalam kajian pembentukan impresi. Sehingga, debat antar-paslon dalam sebuah pilkada sebenarnya dapat dikategorikan sebagai bentuk perilaku investasi di bidang politik.

Memahami dinamika dan prinsip-prinsip investasi politik niscaya akan memberikan insight untuk diterapkan dalam perilaku investasi di bidang ekonomi.

Impresi pemilih terhadap paslon adalah faktor terpenting yang akan menentukan apakah paslon akan dipilih atau tidak. Dalam ilmu psikologi sosial, proses pembentukan impresi diibaratkan seperti menyusun potongan puzzle menjadi sebuah gambar besar yang utuh (Hogg & Vaughan, 2012).

Baik tiap puzzle maupun gambar besarnya adalah hasil evaluasi kita terhadap objek yang kita amati.

Bayangkan Anda bertemu dengan seorang kenalan baru, sebut saja namanya Roby, di sebuah pesta pernikahan teman. Setelah beberapa menit berbincang, Anda akan melakukan evaluasi, “Roby adalah seorang yang sangat humoris”, misalnya.

Sampai di sini, impresi yang terbentuk tentang Roby adalah positif. Informasi yang diterima dari interaksi dengan Roby di pesta pernikahan tadi merupakan potongan-potongan puzzle yang membantu kita menebak gambar besar potret Robby secara keseluruhan.

Feedback   ↑ x