: WIB    —   
indikator  I  

Angkutan online

Oleh S.S. Kurniawan
( Redaktur Kompartemen Kontan )
Angkutan online

Penolakan terhadap angkutan berbasis aplikasi menyala lagi di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir. Sopir taksi konvensional dan angkutan kota (angkot) kembali menolak keberadaan taksi dan ojek online. Bahkan di Kota Tangerang, aksi penolakan sopir angkot berakhir bentrok dengan pengemudi ojek online.

Di mata sopir taksi konvensional dan angkot, keberadaan taksi dan ojek online sudah menggerus penghasilan mereka sehari-hari. Maklum, banyak pengguna taksi konvensional dan angkot yang beralih ke angkutan berbasis aplikasi tersebut. Bagaimana tidak? Tarif taksi dan ojek online sangat murah, terutama di luar jam-jam sibuk.

Keamanan juga jadi pertimbangan masyarakat memilih taksi dan ojek online. Sebab, pengguna bisa mengetahui profil si pengemudi. Enggak heran, tak sedikit orangtua yang mempercayakan tugas mengantar dan menjemput anak mereka ke dan dari sekolah kepada taksi dan ojek online. Termasuk, yang sekolah di taman kanak-kanak (TK).

Tapi, bagi sopir taksi konvensional dan angkot, sejatinya keberadaan angkutan berbasis aplikasi bukan ancaman serius jika tarif yang mereka berlakukan mengikuti aturan main yang berlaku. Persaingan bisa berlangsung lebih sehat.

Dan, harapan itu bisa terwujud lewat revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Tidak Dalam Trayek.

Salah satu poin perubahan adalah penentuan tarif taksi online akan memakai skema tarif atas dan bawah. Besaran tarif, baik taksi online maupun taksi konvensional, diserahkan ke pemerintah daerah (pemda).

Selain tarif, aturan main lain yang baru dalam beleid itu adalah jumlah armada di tiap wilayah. Nanti, pemda juga sebagai penentu jumlah armada taksi online yang boleh beroperasi di wilayah mereka masing-masing. Alhasil, tarif murah taksi online mulai 1 April nanti bisa jadi tinggal kenangan. Pelanggan taksi online pun bersiap gigit jari.

Tapi semestinya, pemerintah juga harus memikirkan, bagaimana agar tarif taksi konvensional dan angkot bisa lebih murah lagi. Misalnya, dengan benar-benar menghapus biaya ekonomi tinggi seperti pungutan liar (pungli).

Kemudian, mengurangi pajak impor suku cadang khusus angkutan umum sehingga harga spare part bisa lebih murah.

Dengan begitu, masyarakat tetap mau menumpang angkutan umum lantaran tarifnya murah. Sudah begitu, aman dan nyaman lagi.

Feedback   ↑ x
Close [X]