kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.923
  • SUN98,38 -0,17%
  • EMAS611.050 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Antisipasi dinamika kawasan Arktik

Jumat, 06 April 2018 / 12:42 WIB

Antisipasi dinamika kawasan Arktik

Antisipasi perkembangan

Salah satu peluang komersial yang sedang dipersiapkan oleh Singapura sebagai negara yang berpengalaman dalam sektor maritim adalah pembangunan infrastruktur maritim. Di luar itu, Singapura sejak beberapa tahun sebelumnya menjadi pengamat (observer) pada Arctic Council (Dewan Arktik) yang beranggotakan Canada, Denmark termasuk Kepulauan Faroe dan Greenland Finlandia, Islandia, Norwegia, Rusia, Swedia, dan Amerika Serikat. Selain Singapura, negara Asia lainnya yang menjadi pengamat di Arctic Council adalah Jepang dan Korea Selatan.

Di bidang penelitian, National University of Singapore sudah menjalin kerja sama dengan University of Alaska Fairbanks pada penelitian di bidang engineering dan oil spill untuk wilayah dingin (Straits Times, 13 November 2015).

Sebagai negara yang juga memiliki wilayah dan berkepentingan di Selat Malaka, sudah selayaknya Indonesia turut mengantisipasi perkembangan jalur pelayaran Arktik di masa depan. Indonesia sendiri sudah mengembangkan Pelayanan Pemanduan dan Penundaan bagi kapal-kapal asing maupun domestik di Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura atau The Voluntary Pilotage Services in The Straits of Malacca and Singapore yang dioperasikan oleh PT. Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I). Dengan demikian, potensi berkurangnya frekuensi pelayaran di Selat Malaka di masa depan dengan sendirinya dapat mengurangi pendapatan negara di kemudian hari.

Akan tetapi, berkembangnya jalur pelayaran Arktik di sisi lain sebenarnya merupakan peluang bagi Indonesia mengembangkan transportasi di jalur pelayaran wilayah Indonesia bagian timur. Apalagi, mengingat hingga saat ini ekspor komoditas Indonesia pun masih harus melakukan trans shipment di Selat Malaka yang berada di wilayah Singapura.

Hal ini kurang menguntungkan secara ekonomis bagi ekspor komoditas dari Indonesia bagian timur yang secara geografis harus menempuh waktu tempuh lebih lama untuk menjangkau beberapa negara Eropa, seperti Rusia atau negara-negara Skandinavia via Selat Malaka. Dengan berkembangnya jalur pelayaran Arktik, pelabuhan di Indonesia bagian timur seperti Bitung (Sulawesi Utara) via Asia Timur berpotensi untuk dikembangkan menjadi jalur pelayaran yang lebih ekonomis bagi komoditas Indonesia di masa depan.

Namun, untuk mengembangkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, terutama di bagian timur tentu membutuhkan usaha dan persiapan yang sangat serius, terutama dalam hal infrastruktur pelabuhan, shipping, hingga aturan main yang jelas.



Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-113,07
5.993,63
-1.85%
 
US/IDR
13.902
0,25
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×