kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.612
  • SUN103,52 -0,01%
  • EMAS597.932 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Apa kabar bail in?

Senin, 04 Desember 2017 / 15:31 WIB

Apa kabar bail in?

Akhir Oktober lalu, pemerintah India mengumumkan rencana bail out industri perbankan. India berharap injeksi dana sebesar US$ 32 miliar, atau sekitar Rp 430 triliun itu, bisa membantu industri perbankannya mengatasi masalah kredit macet alias non-performing loan (NPL).

Kendati bank penerima bail out mayoritas berstatus dimiliki negara India, tetap saja langkah itu menuai kritik.  Seperti di negara-negara lain, pemberian dana publik ke industri, khususnya jasa keuangan yang sedikit menyerap tenaga kerja, bukanlah kebijakan yang populis.

Setelah krisis keuangan global di 2008, masyarakat di banyak negara secara tegas menolak bail out. Sejalan dengan kecenderungan itu, pemimpin  G-20 pada 2008 berkomitmen untuk mereformasi pengaturan industri keuangan global.

Satu pilar utama dari reformasi tersebut adalah mengakhiri masalah too big to fail, hingga pemerintah tidak dipaksa lagi untuk memberikan bail out.

Langkah penting untuk menghindar dari bail out adalah mengimplementasi bail in. Ini adalah cara penyelesaian permasalahan perbankan dengan memanfaatkan sumber internal bank, baik dari masing-masing bank, maupun dari industri.

Selain kewajiban penguatan modal, bank juga diharuskan untuk memiliki instrumen utang yang dapat dikonversi menjadi modal (convertible bond).
Sumber kedua bail in adalah dana dari industri perbankan.

Bank diwajibkan membayar premi yang akan dikumpulkan dan dikelola untuk digunakan membantu resolusi bank-bank yang mengalami permasalahan solvabilitas.

Di Eropa, pengenaan premi secara ex-ante di mana bank telah mulai membayar premi untuk mempersiapkan resolusi perbankan pada saat krisis keuangan di masa depan.

Sedang di Amerika Serikat (AS), pengenaan premi dilakukan secara ex-post di mana pemerintah melalui Ordinary Liquidation Fund (OLA) memberikan pinjaman untuk meresolusi bank.

Selanjutnya, industri perbankan harus mengembalikan pinjaman tersebut setelah kondisi sektor keuangan kembali normal.



Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk
21 March 2018 - 22 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]