: WIB    —   
indikator  I  

Arah pergerakan harga komoditas

Oleh Dendi Ramdani
( Kepala Riset Bidang Industri dan Regional Bank Mandiri )
Arah pergerakan harga komoditas

Fluktuasi ekonomi Indonesia berhubungan erat dengan arah pergerakan harga komoditas. Ekonomi Indonesia pernah tumbuh di atas 6% pada tahun 2010-2012, efek bom komoditas. Ekspor utama  Indonesia terdiri atas komoditas yaitu minyak kelapa sawit, batubara, minyak bumi dan karet.

Ekspor utama ini berkontribusi lebih dari 30% ke penerimaan ekspor. Saat itu, harga minyak di atas US$ 100 per barel, minyak kelapa sawit di atas US$ 1.000 per ton, batubara di atas US$ 100  ton dan karet di atas US$ 3 per kilogram (kg)

Akhir tahun 2016, harga komoditas memberikan harapan meningkat lagi, terutama batubara dan minyak kelapa sawit mendekati
US$ 800 per ton. Namun, harga terkoreksi karena sebetulnya terjadi overshooting pada harga komoditas tersebut di akhir tahun 2016. Overshooting adalah kenaikan harga melebihi  yang seharusnya, karena sektor produksi lambat merespons terjadinya kenaikan permintaan.  

Overshooting harga jelas terlihat di komoditas batubara, harganya melonjak  hanya beberapa pekan, menembus US$ 100 per ton. Sebabnya, pembatasan hari produksi tambang batubara di Tiongkok dari 330 hari menjadi 276 hari dan selanjutnya memicu kebutuhan impor Tiongkok. Sementara, harga minyak kelapa sawit menurun karena produksi di Indonesia dan Malaysia berkurang,  efek cuaca ekstrem tahun 2016.

Pekan kedua Maret, tingkat harga-harga komoditas menurun dibandingkan harga akhir tahun 2016. Harga minyak mentah mendekati
US$ 50 per barel, padahal sempat menembus US$ 55, harga minyak kelapa sawit mendekati US$ 650 dolar per ton, padahal sempat menembus jauh di atas US$ 700 per ton, harga batubara sekitar US$ 80 per ton, padahal pernah menembus US$ 100.

Feedback   ↑ x
Close [X]