: WIB    —   
indikator  I  

Banyak kendala di bank syariah

Oleh Adiwarman Karim
( Praktisi Keuangan Syariah )
Banyak kendala di bank syariah

Industri perbankan syariah di Tanah Air sangat lambat dapat meningkatkan pertumbuhan aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga. Ada segudang kendala bagi bank syariah untuk menjadi lebih raksasa.

Diantaranya, soal rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang kecil pada bank syariah membuat kemampuan bank untuk tumbuh lebih kecil. Kemudian, pembiayaan yang kurang efektif karena pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) masih terlalu tinggi sehingga bank syariah sulit meningkatkan efektifitas pembiayaan.

Kondisi tersebut membuat kemampuan bank untuk menghasilkan profit dengan jumlah aset yang dimiliki masih terlalu kecil. Dengan rasio return on assets (ROA) bank syariah yang masih terlalu kecil menunjukkan bank syariah kesulitan menggenjot laba.

Ada tiga opsi untuk meningkatkan kinerja bank syariah. Pertama, membuat jembatan antar bank syariah. Kedua, jembatan antara unit usaha syariah (UUS) dan bank umum syariah (BUS) dengan induknya. Dan ketiga, jembatan antara capital needs dengan capital-like injection yaitu memperhitungkan penempatan deposito di atas 3 tahun sampai dengan 50% sebagai kuasi equity.

Ke depan, bank syariah sebagai pemain baru atau the new kid di dunia perbankan harus membuktikan dapat tumbuh lebih baik daripada perbankan konvensional sebagai pemain lama atau the old man.

Hingga akhir 2016, pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 6,13%. Ada proyeksi bahwa aset bank syariah akan tumbuh dua kali lebih cepat ketimbang bank konvensional.

Prediksi saya, aset bank syariah akan tumbuh 11,80% di 2017. Walau jumlah perbankan syariah delapan kali jauh lebih kecil dari bank konvensional, tapi pertumbuhan aset bank syariah yang naik signifikan menunjukkan bahwa the new kid mampu bersaing dengan the old man.

Reporter : Nina Dwiantika

Feedback   ↑ x
Close [X]