: WIB    —   
indikator  I  

Benarkah harga premium kemahalan?

Oleh Komaidi Notonegoro
( Direktur Eksekutif ReforMiner Institute )
Benarkah harga premium kemahalan?

Pada 31 Oktober 2017, sahabat saya Fahmy Radhi menulis di Harian KONTAN tentang Rakyat Menanggung Mahalnya Harga Premium. Kesimpulan tulisan tersebut, premium (bensin RON 88) yang dijual Pertamina kemahalan. Kesimpulan diambil berdasarkan harga jual bensin RON 89 dari PT Vivo dan perhitungan yang mengacu pada formula harga Bensin RON 88 yang dilakukan Harian KONTAN pada 28 Oktober 2017.

Berdasarkan hasil hitungan tersebut, harga premium Pertamina dinilai kemahalan Rp 693,4 untuk setiap liter. Sehingga jika mengacu pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM) saat ini yang disebut mencapai 1,74 juta barel per hari, kemahalan harga BBM yang harus ditanggung rakyat disebutkan bisa mencapai Rp 70,01 triliun per tahun.

Dengan asumsi harga minyak US$ 50 per barel dan nilai tukar Rp 13.560 per US$, harga dasar (HD) bensin RON 88 disebutkan Rp 4.264,15 per liter (US$ 50/159) x Rp 13.560). Jika ditambah margin dan biaya, PPN, dan PBBKB, harga jual premium per liter yang dinilai wajar adalah Rp 5.756,60 atau lebih rendah Rp 693,40 dari harga jual premium Pertamina (Rp 6.450 – Rp 5.756,60).

Tulisan ini dibuat bukan dalam konteks menyanggah (menyalahkan), tetapi karena ada beberapa perbedaan pandangan dalam melihat permasalahan ini. Dalam konteks dialektika akademis, hal seperti ini sangat lumrah.

Saya melihat ada beberapa hal yang belum dimasukkan (mungkin terlupakan), baik dalam mengambil kesimpulan atas perbandingan harga Pertamina vs PT Vivo maupun di dalam menghitung harga dasar BBM (khususnya bensin RON 88) tersebut.

Dalam teori pasar, yang dilakukan PT Vivo yang menjual lebih murah, dapat merupakan bagian dari strategi untuk masuk pasar melalui penetration pricing. Strategi ini umum untuk bisnis yang ingin memasuki pasar baru dan dengan pangsa pasar yang masih relatif kecil.

Pada kondisi ekstrim, bahkan perusahaan bersedia merugi terlebih dahulu agar dapat masuk ke dalam pasar.  Sehingga harga yang lebih murah tersebut tidak dapat serta merta menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa PT Vivo lebih efisien dibanding Pertamina. Bisa iya dan tidak.

Apakah yang dilakukan PT Vivo merupakan bagian dari strategi untuk masuk pasar atau tidak, yang tahu pasti adalah PT Vivo dan waktu yang kemudian akan menjawab.

Feedback   ↑ x
Close [X]