: WIB    —   
indikator  I  

Biar defisit tidak sia-sia

Oleh S.S. Kurniawan
Biar defisit tidak sia-sia

Akhir bulan lalu, pemerintah punya target anggaran baru untuk tahun ini. Dalam Sidang Paripurna yang digelar 27 Juli lalu, DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017 menjadi undang-undang (UU).

Dalam APBN-P 2017, target pendapatan negara menyusut menjadi Rp 1.736,1 triliun, dari sebelumnya Rp 1.750,3 triliun di APBN 2017. Sedang belanja negara bertambah Rp 52,8 triliun jadi Rp 2.133,3 triliun. Alhasil, defisit anggaran membengkak menjadi Rp 397 triliun atau 2,92% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini hanya sejengkal dari batas defisit yang dibolehkan UU yakni 3%.

Utang pemerintah pun kian menggunung. Bagaimana tidak? Untuk menutup lubang defisit yang menganga itu, pemerintah mesti menambah utang sebanyak Rp 77 triliun jadi Rp 461 triliun. Per akhir Juni lalu, Kementerian Keuangan mencatat, utang pemerintah mencapai Rp 3.706,51 triliun.

Meski defisit anggaran tahun ini membengkak menjadi 2,92%, pemerintah optimistis realisasinya di akhir tahun tidak mencapai angka itu. Mengacu data empiris tahun-tahun sebelumnya, penyerapan beberapa komponen belanja negara, seperti kementerian/lembaga, dana alokasi khusus (DAK), dan dana desa diperkirakan pada kisaran 95%–97% dari pagu yang ditetapkan. Sehingga, realisasi defisit tahun ini kemungkinan hanya 2,67%.

Memang, defisit anggaran yang menciut merupakan kabar baik. Tapi sejatinya, realisasi defisit yang tidak mencapai target enggak bagus juga. Sebab, yang membuat defisit meleset bukan lantaran penerimaan pajak yang melebihi target, tapi belanja yang di bawah pagu. Padahal, negara sudah terlanjur berutang untuk menutup lubang anggaran tersebut.

Feedback   ↑ x
Close [X]