: WIB    —   
indikator  I  

Blockchain NEM untuk industri

Oleh Vinsensius Sitepu
( Pendiri Mahapala Multimedia )
Blockchain NEM untuk industri

Salah satu ambisi Presiden Joko Widodo adalah memperkuat cashless society, salah satunya dengan menambah laju ekosistem teknologi keuangan alias fintech. Tetapi, bangsa ini selalu memble soal mengadopsi teknologi baru, yang menambah efisien sebuah proses, yakni teknologi blockchain.

Blockchain adalah teknologi dasar mata uang virtual (MUV) bitcoin dan diadopsi oleh mata uang virtual lainnya seperti ether, litecoin, dan ratusan uang virtual lainnya. Sebagai penopang aset digital, blockchain tidak hanya untuk membuat mata uang virtual, tetapi bisa untuk membuat kontrak digital, klaim hak cipta musik, sistem manajemen suplai, bank settlement dan ribuan kemungkinan lain selama berwujud digital.

Blockchain memungkinkan data dan informasi disimpan dan ditransfer bukan di server tapi dalam jaringan blockchain secara peer-to-peer (antar simpul pengguna) dan desentralistik. Data lebih aman, karena salinannya secara transparan dapat dilihat dan divalidasi oleh partisipan di dalam jaringan secara anonim. Peretas tidak memungkinkan memanipulasi data atau informasi, karena data secara instan tersebar di semua simpul jaringan blockchain yang terenkripsi. Semua simpul pun berperan satu sama lain.

Secara umum, menurut Melanie Swan di Blockchain (2015), blockchain adalah buku besar (ledger) transparan yang desentralistik. Rekaman transaksi, yaitu berupa database yang dibagikan ke semua simpul (node) jaringan, dimutakhirkan oleh miner (penambang), diawasi oleh segenap partisipan, dan tidak dimiliki serta tidak dikendalikan oleh siapapun. Blockchain ibarat spreadsheet interaktif raksasa yang memungkinkan setiap orang mengakses dan memutakhirkan serta mengonfirmasi transaksi digital di dalamnya.

Mengingat blockchain bersistem sumber terbuka (open source), ia dapat dengan mudah dimodifikasi untuk kebutuhan strategis lainnya. Dengan mengembangkan sistem blockchain tersendiri, penyedia dapat menjualnya sebagai produk jasa ke pengguna. IBM dan Microsoft adalah dua dari banyak perusahaan yang sedia layanan blockchain sebagai jasa (Blockchain-as-a-Services/BaaS). Dalam World Economic Forum 2016, blockchain didaulat sebagai satu dari sepuluh emerging technologies dan punya potensi besar mengubah cara manusia mengolah data dan informasi.

Feedback   ↑ x
Close [X]