: WIB    --   
indikator  I  

Cermin ekonomi

Oleh Khomarul Hidayat
Cermin ekonomi

Bulan ini menjadi musim emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan kinerja keuangan semester pertama 2017, termasuk emiten perbankan. Kinerja emiten perbankan layak dicermati karena bisa menjadi cermin yang bagus untuk memotret kondisi ekonomi riil Indonesia.

Dari sejumlah bank besar yang telah merilis laporan keuangan, sementara ini bisa disimpulkan kinerja perbankan sampai medio tahun ini makin membaik. Ukurannya dari panen laba bank yang tumbuh subur sampai dua digit.  Malah bagi beberapa bank, kinerja di semester pertama 2017 menjadi titik balik, yakni meraih pertumbuhan laba setelah sebelumnya membukukan kerugian atau penurunan laba.

Pertanda ekonomi Indonesia kian membaik pula? Belum tentu. Sebab, kenaikan laba yang cukup tinggi salah satunya buah dari bersih-bersih kredit macet perbankan. Banyak bank memanfaatkan relaksasi kebijakan restrukturisasi kredit untuk menekan rasio kredit macet sehingga pencadangan mengecil. Hasilnya, tekanan kredit macet mengendur dan mengangkat laba perbankan.

Cermin sesungguhnya adalah penyaluran kredit atau fungsi intermediasi bank yang merupakan mesin utama perbankan. Sebab, geliat kredit perbankan menggambarkan pula geliat ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Kredit perbankan yang seret mencerminkan kegiatan ekonomi yang lesu pula di masyarakat.

Nah, sisi intermediasi perbankan ini yang masih belum optimal. Mesin pertumbuhan kredit perbankan masih bertumpu di bank-bank BUMN. Itu pun karena penyaluran kredit bank BUMN tertolong program-program pemerintah, seperti kredit usaha rakyat (KUR), proyek infrastruktur dan konstruksi. Lain cerita di bank-bank swasta yang gelontoran kreditnya masih belum deras. Rata-rata hanya tumbuh satu digit, ada pula yang stagnan atau malah menurun baki kreditnya.

Sebagai gambaran, merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Mei 2017, pertumbuhan kredit industri perbankan hanya 8,77% secara tahunan dan naik 1,05% kalau dihitung dari akhir 2016. Pertumbuhan kredit tersebut melambat ketimbang bulan sebelumnya yakni 9,5%. Dan, masih jauh dari proyeksi sampai akhir tahun sekitar 11%-12%.

Data ini kira-kira memberi cerminan betapa masih rendahnya penyerapan kredit perbankan. Permintaan yang lemah membuat keran aliran kredit perbankan tersendat. Ini seolah mengonfirmasi data-data ekonomi di sektor riil yang belakangan juga menunjukkan gelagat pelemahan.

Sebagai contoh, penjualan ritel yang melambat. Di Lebaran tahun ini, penjualan ritel cuma naik 3% dari bulan biasa, padahal tahun-tahun sebelumnya bisa meningkat 13%. Lalu, penjualan sepeda motor yang menurun 13,1% di semester I-207 dan penjualan semen yang melorot 1,3% di periode sama.

Lemahnya penjualan ritel, lesunya industri maupun permintaan kredit rendah menandakan daya beli masyarakat yang belum kuat. Pelemahan daya beli ini patut mendapat perhatian. Bukan semata karena konsumsi masyarakat merupakan roda penggerak ekonomi, tapi  ini juga terjadi justru saat kondisi makro ekonomi sedang oke. Bahkan dengan tingkat inflasi yang sekarang ini terbilang rendah.

Mungkin ini yang disebut sebagai anomali ekonomi. Apapun itu, memang butuh resep lebih cespleng lagi untuk mengungkit daya beli. Percayalah, bila daya beli kembali bangkit, efek dominonya juga dahsyat. Termasuk menggerakkan lagi pemintaan kredit bank.                  

Feedback   ↑ x
Close [X]