| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.362
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Dari banyu hingga bayu

Rabu, 11 Juli 2018 / 14:48 WIB

Dari banyu hingga bayu

Laksana tiupan angin kencang tanpa desir. Begitu halnya pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Sidrap, Sulawesi Selatan itu. Hanya dalam tempo 2,5 tahun, sebanyak 30 kincir raksasa berdiri di pucuk-pucuk bukit dan mampu menghasilkan listrik 75 MW.

Tak heran bila Presiden Jokowi merasa girang tatkala meresmikan pembangkit yang dibangun PT Binatek Energi Terbarukan beserta mitranya, UPC, 2 Juli lalu. Ia membayangkan tengah berada di Belanda atau negara Eropa lainnya yang jamak dengan kehadiran kincir angin penghasil energi kenyataannya berada di Kabupaten Sidrap yang berjarak 200-an km dari Makassar.

Beroperasinya PLTB tak hanya mendukung pencapaian target pembangkit 35.000 MW. Ini pun membuktikan bahwa Indonesia punya potensi yang besar dalam pengembangan energi ramah lingkungan.

Selama ini tenaga angin kurang diperhitungkan. Dalam kelompok EBT yang mencapai 12% dari total kapasitas listrik terpasang, yang dominan adalah air, disusul minihidro, panas bumi, surya, biomassa. Maklum, energi yang dihasilkan bayu relatif kecil per unit turbinnya. Tapi kincir raksasa itu bisa ditancapkan di mana-mana. Saat ini saja PLTB Sidrap bakal mengembangkan proyek kedua. Lalu akan muncul PLTB di Jeneponto (Sulsel), Tanah Laut (Kalsel), dan di Geopark Ciletuh, Sukabumi (Jabar).

Bila tenaga bayu melemah saat musim hujan, negeri kita kaya dengan tenaga air. Bukan hanya PLTA Jatigede yang progresnya sudah 30%, mulai bulan ini digarap PLTA Upper Cisokan di Bandung Barat. Ditargetkan kelar 2019, Upper Ciso-kan bakal menjadi PLTA terbesar (1.040 MW) melampaui PLTA Cirata (1.008 MW). Belum lagi ditambah tenaga surya dan panas bumi yang bisa dilipatgandakan pemanfaatannya, tentu target energi prolingkungan 23% dari total kapasitas terpasang di tahun 2025 ditaksir 114.000 MW bukan mustahil bisa diraih.

Memang ada kendala yang menghadang energi berkelanjutan ini: harga lebih mahal ketimbang energi ekstraktif. Tapi sebetulnya EBT tidak harus mahal. Selain efisiensi proyek, dukungan pemerintah sangatlah diperlukan, terutama dalam pembebasan lahan dan penyiapan infrastruktur. Selain itu, jangan kasih tempat para pedagang lisensi atau investor yang kurang kredibel; yang akhirnya malah bikin proyek mangkrak lantaran tak ada pendanaan atau minus kapabilitas.

Bila investasi bisa lebih rendah, harga jual ke PLN bisa lebih murah. Dan tanpa subsidi tentunya.•

Ardian Taufik Gesuri


Reporter: Ardian Taufik Gesuri

Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-43,65
5.861,51
-0.74%
 
US/IDR
14.391
-0,03
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×