: WIB    —   
indikator  I  

Diimbangi kebijakan fiskal

Oleh Bhima Yudhistira Adhinegara
( Ekonom Indef )
Diimbangi kebijakan fiskal

Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate (7-DRRR) 25 basis poin menjadi 4,5% adalah langkah tepat. Meski ada tekanan geopolitik secara global dan ketidakpastian kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR), turunnya suku bunga bisa mendongkrak daya beli.

Hanya, prosesnya membutuhkan waktu tak sebentar. Belajar dari pengalaman 2016, dampak penurunan suku bunga terhadap suku bunga kredit cukup lama bahkan bisa memakan waktu tiga bulan-lima bulan. Jadi yang lebih banyak turunnya suku bunga deposito.

Cara menaikkan daya beli msyarakat tidak hanya dengan menurunkan bunga acuan. Harus ada kelonggaran instrumen moneter maupun kebijakan fiskal agar pertumbuhan daya beli terasa.

Yang terpenting sekarang ialah bunga acuan sudah diturunkan oleh BI. Selanjutnya, BI bisa menaikkan loan to value (LTV) dari 85% menjadi 90% sampai 95% terutama untuk hunian kedua dan ketiga termasuk kredit kendaraan bermotor.

Jika kreditnya meningkat ini akan jadi stimulus bagi industri manufaktur maupun ritel. Hal ini harus dikombinasikan dengan kebijakan fiskal. Penyerapan anggaran yang sedikit terlambat membuat daya beli masyarakat kurang terdorong.

Pada semester II, harapannya penyerapan anggaran lebih maksimal sehingga uang yang ditahan oleh pemerintah bisa langsung dikeluarkan. Dengan begitu, belanja pemerintah ini bisa menjadi faktor pendorong. Apalagi kini ada penurunan suku bunga acuan dan rencana relaksasi loan value yang bisa mendorong pertumbuhan kredit.

Kami masih optimistis sampai akhir 2017, kredit bisa tumbuh 9%-9,5%. Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga diperlukan untuk mendongkrak kredit. Harapannya, OJK bekerjasama dengan BI untuk memberi insentif dan stimulus. Ini semua agar daya beli masyarakat tumbuh.

Reporter : Umi Kulsum

Feedback   ↑ x
Close [X]