: WIB    —   
indikator  I  

Dilema bank sentral

Oleh Khomarul Hidayat
Dilema bank sentral

Pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit bank adalah dua hal yang saling bertalian, erat bahkan. Kucuran kredit yang lemah menggambarkan lesunya kegiatan ekonomi. Sebaliknya, permintaan kredit perbankan yang kuat menandakan geliat perekonomian. Kalau ditarik dengan grafik, trennya kurang lebih akan sama yakni pola pertumbuhan kredit bank selalu mengikuti arah pertumbuhan ekonomi.

Itu sebabnya dalam beberapa tahun terakhir saat ekonomi Indonesia loyo, kredit bank pun ikut seret pertumbuhannya. Tahun lalu, ambil contoh, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,01%, kredit perbankan juga cuma tumbuh kontet yakni 7,85%.

Tahun ini, kurang lebih masih sama kondisinya. Padahal sejak tahun lalu, beragam kebijakan untuk lebih melonggarkan keran kredit perbankan agar tidak makin seret sudah digedor, mulai dari relaksasi uang muka kredit hingga beberapa kali penurunan suku bunga acuan. Nyatanya, pertumbuhan kredit perbankan masih saja sulit tumbuh kencang.

Kalau dihitung sejak awal 2016, Bank Indonesia (BI) telah lima kali memangkas suku bunga acuan  BI 7-Day Repo Rate, termasuk dua bulan berturut pada Agustus dan September tahun ini.  Alih-alih menjadi obat mujarab pendongkrak pertumbuhan kredit, kredit perbankan malah tumbuh makin melambat.

Catatan BI, kredit hingga September 2017 tercatat tumbuh 7,9% secara tahunan, turun dari bulan sebelumnya yang tumbuh 8,3%. Di periode sama, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,06%.  Di kuartal akhir ini, pertumbuhan kredit juga masih terbatas, sehingga perkiraan BI, kredit perbankan cuma sanggup tumbuh 8% sampai akhir tahun. Tidak terpaut jauh dari pertumbuhan kredit di tahun lalu.

Sulit disangkal bahwa ekonomi memang tengah lesu dan butuh vitamin penguat. Meningkatnya undisbursed loan dengan status komitmen yakni sebesar 15,80% menjadi Rp 346,02 triliun per September 2017, menjadi gambaran kondisi bisnis yang lemah. Sehingga debitur menahan diri tak menarik fasilitas kreditnya.

Persoalannya, peluang melonggarkan lagi kebijakan moneter kian menyempit. Sementara, masih butuh ruang gerak lebih longgar agar permintaan kredit perbankan menguat lagi untuk memuluskan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% di tahun depan.

Kebijakan moneter pun menghadapi dilema. Satu sisi, BI juga harus berhitung dengan tren suku bunga global yang diperkirakan meningkat tahun depan. Sebab, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan menaikkan bunga lagi pada Desember tahun ini dan berlanjut lagi tahun depan.

Goldman Sachs sudah meramalkan tahun depan The Fed bakal empat kali mengerek suku bunga. Bila BI tak mengikuti arus ini, bisa berisiko menimbulkan capital outflow lantaran imbal hasil investasi di Indonesia menjadi tak menarik. Efek rentetannya bisa menjalar dan menekan rupiah.

Sisi lain mengetatkan kebijakan moneter dengan mengerek suku bunga juga pilihan pahit. Sebab, berarti pula membuka peluang lagi kenaikan bunga kredit perbankan. Sementara, ekonomi Indonesia masih butuh kebijakan moneter lebih lentur. Apalagi kalau tahun depan ekonomi Indonesia tumbuh mengecewakan dan tak sesuai harapan.

Nah, menyelaraskan kebijakan moneter yang akomodatif dengan tren pasar namun juga bisa memenuhi kebutuhan untuk memberi stimulus ekonomi ini tentu bukan hal mudah. Mungkin dilematis bagi bank sentral.                  

Feedback   ↑ x
Close [X]