: WIB    --   
indikator  I  

Fatamorgana membaiknya ekonomi

Oleh Andry Satrio Nugroho
( Peneliti Indef )
Fatamorgana membaiknya ekonomi

Puja puji pemerintah atas kinerja ekonomi pada kuartal II-2017 sebagai bekal mengarungi setengah tahun ke depan bak oase di tengah gurun pasir. Pemerintah percaya diri bahwa ekonomi telah membaik. Ini bisa dilihat dari sikap pemerintah yang mengerek  target pertumbuhan ekonomi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 menjadi 5,2%.

Status peringkat layak investasi dari tiga lembaga utama membantu capital inflow ke Indonesia mencapai Rp 117 triliun hingga 6 Juli 2017, sedangkan sepanjang 2016 jumlahnya hanya Rp 126 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus memberikan sinyal positif di kisaran level 5,800. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bahkan menyimpulkan bahwa sektor keuangan secara umum dalam posisi normal.

Laba beberapa bank naik hingga dobel digit, baik swasta maupun milik pemerintah. Laba Bank BCA misalnya hingga semester 1-2017 membukukan laba Rp 10,5 triliun, naik 10% dari periode sebelumnya. Secara akumulasi laba bank milik pemerintah tumbuh 24,1% (yoy). Empat Bank BUMN (BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN) mampu meraup untung hingga Rp 30,63 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 24,69 triliun. Aset empat bank itu juga tumbuh 13,1%.     

Inflasi juga masih terjaga di bawah batas yang ditentukan APBN-P 2017 sebesar 4,3%, nilai tukar stabil di kisaran Rp 13.300 dan surplus neraca perdagangan karena membaiknya permintaan global, mendorong meningkatnya ekspor manufaktur secara kumulatif Januari-Juni 2017 mencapai US$ 7,63 miliar (yoy). Seakan tidak ada yang mampu merefleksikan bahwa indikator makroekonomi Indonesia dalam keadaan baik-baik saja.

Sayang seribu sayang, klaim pemerintah atas membaiknya ekonomi domestik layaknya fatamorgana, terlihat dari jauh namun pada kenyataannya hanya sebuah khayalan. Membaiknya ekonomi domestik tidak terasa hingga ke sektor riil. Daya beli masyarakat yang lesu masih menghantui ekonomi domestik. Menjadi sangat kontradiktif ketika dikatakan ekonomi domestik membaik namun sektor konsumsi sebagai bagian terbesar dalam PDB berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

Ini bisa dilihat dari produk barang yang beredar yang sebagian dari dalam negeri dan ada yang impor. Keduanya sangat bergantung satu dengan yang lain. Ini dapat digambarkan ketika daya beli masyarakat melemah, imbasnya akan terasa pada kinerja industri dalam negeri yang tergerus akibat turunnya permintaan. Dan terbaca dari kinerja industri manufaktur yang turun di kuartal II tahun ini,

Feedback   ↑ x
Close [X]