: WIB    --   
indikator  I  

Fatamorgana membaiknya ekonomi

Oleh Andry Satrio Nugroho
( Peneliti Indef )
Fatamorgana membaiknya ekonomi

Daya beli yang melemah bukan karena sebab yang sederhana. Pil pahit harus ditelan masyarakat, lantaran pemerintah melakukan kebijakan yang menekan daya beli mereka. Inflasi bahan bergejolak yang menggambarkan harga kebutuhan pokok yang rendah di penghujung Lebaran seharusnya menjadi pertanda bagi pemerintah bahwa sudah terjadi perlambatan daya beli.

Namun, pemerintah justru mengambil kesempatan ini untuk menaikan komponen administred price agar inflasi secara keseluruhan terlihat terkendali. Pencabutan subsidi bertahap tarif dasar listrik 900 VA yang diikuti dengan masuk anak sekolah pasca Lebaran lalu sudah cukup menggerus daya beli mereka.

Pendapat lain mengatakan bahwa terjadi pergeseran konsumsi (shifting consumption) yang ditandai dengan berbagai hal. Indeks Tendensi Bisnis (ITB) menggambarkan terjadi peningkatan pada lapangan usaha informasi dan komunikasi pada kuartal II-2017 ini, dari sebelumnya pada kuartal I sebesar 104,58 menjadi 116,40 di tengah penurunan di berbagai lapangan usaha lain.

Ini bisa dilihat dari pertumbuhan e-commerce Indonesia yang terbesar di dunia. BPS mencatat dalam 10 tahun terakhir, e-commerce tumbuh 17% dengan total jumlah usaha 26,2 juta unit. Efek dari 73% pengguna internet Indonesia memakai ponsel.  

Jika benar terjadi penguatan aktivitas e-commerce sebagai hilir yang mendekati konsumen, namun industri hulu yang menyuplai barang ke industri hilir seperti manufaktur melemah, patut diduga kita bukan saja mengalami pergeseran konsumsi melainkan pergeseran produksi. Transaksi e-commerce bisa jadi memperdagangkan barang impor ketimbang diproduksi di dalam negeri. Akhirnya kita masuk ke dalam fase deindustrialisasi kronis. Yaitu produk jasa naik pesat tapi tidak bisa memproduksi apa-apa.         

Feedback   ↑ x
Close [X]