: WIB    —   
indikator  I  

Gema politik

Oleh Khomarul Hidayat
Gema politik

Pemilihan umum legislatif maupun pemilihan presiden masih akan berlangsung 2019 mendatang. Masih dua tahun lagi, namun riuh politik sudah mulai riuh gemanya jauh-jauh hari. Dan akan makin gaduh hingga nanti pesta demokrasi berlangsung.

Arena politik kian ramai dan memanas dengan aneka manuver maupun serangan politik yang gencar dilancarkan para elite politik demi menaikkan elektabilitas. Isu apapun seolah bisa menjadi sumber amunisi politik untuk saling memojokkan. Semakin riuh karena manuver elite merembet juga ke arena publik lewat ranah media sosial sehingga ikut melibatkan "emosi" publik.

Memang sah-sah saja elite politik bermanuver. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja yang perlu digarisbawahi, berpolitik seharusnya dengan cara yang elegan. Elite politik harusnya sadar diri bahwa berpolitik bukan dengan cara memanas-manasi atau memancing kegaduhan. Ini penting ditekankan, karena kita tak menginginkan kompetisi politik sampai menimbulkan ketegangan apalagi sampai berujung konflik politik.

Intinya, jangan sampai gara-gara persaingan politik menepikan urusan lain yang juga tak kalah penting. Terlebih, risiko politik ini akan membayangi ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan. Sudah tentu akan melelahkan bila energi cuma terkuras mengurusi urusan politik.

Padahal urusan ekonomi masih banyak yang mesti diselesaikan. Terlebih, tantangan ekonomi kita di tahun ini maupun tahun depan cukup berat. Bahkan mungkin di tahun depan cukup kritikal bagi Indonesia karena masa pelaksanaan pemilu semakin dekat.

Secara makro memang bisa dibilang ekonomi kita saat ini cukup stabil. Inflasi terjaga rendah, suku bunga acuan juga tidak di level tinggi dan kurs rupiah tak bergejolak. Namun, di sektor riil masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Terutama memulihkan industri dalam negeri yang tertekan pelemahan daya beli.

Maka itu, kita berharap elite politik makin sadar diri, dewasa dan juga ngeh bahwa problem yang kita hadapi tak sekecil kepentingan elektabilitas atau popularitas politik mereka. Mengatasi masalah ekonomi yang melambat, ketimpangan ekonomi, kohesi sosial yang mulai terkoyak, dan maraknya aksi kekerasan, jauh lebih penting ketimbang sekadar memoles citra dan popularitas. Publik tak butuh pencitraan. Yang mereka butuhkan kesungguhan elite mengatasi masalah.

Feedback   ↑ x
Close [X]