: WIB    --   
indikator  I  

Harga minyak naik kalau perang

Oleh Lana Soelistianingsih
( Ekonom Samuel Asset Management )
Harga minyak naik kalau perang

Harga minyak mentah di pasar dunia masih panas dingin. Setelah sempat menguat pada awal tahun membuntuti pergantian presiden di Amerika Serikat (AS), harga minyak kembali meleleh.

Baru satu–dua pekan terakhir, harga minyak menguat lagi. Pasokan yang berlimpah di saat ekonomi dunia masih bergerak lesu menjadi alasan banyak ekonom memprediksi tren melemahnya harga minyak akan bertahan.

Sejak awal tahun harga minyak kian terkikis. Puncaknya, pada Rabu (21/6) silam, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2017 di New York Mercantile Exchange ditutup di US$ 42,53 per barel. Posisi tersebut merupakan penutupan terendah sepanjang tahun ini. Bahkan, pada hari yang sama, harga emas hitam ini sempat jatuh hingga menyentuh US$ 42,05 per barel.

Selama enam bulan pertama tahun ini, harga minyak sudah tergerus sekitar 15%. Awal pekan lalu, harga emas hitam sempat perlahan naik.

Namun, pada Senin (3/7), harga minyak mentah di bursa Nymex untuk pengiriman Agustus 2017 diperdagangkan di US$ 46,23 per barel. Sebelumnya, pada Jumat (30/6) harga minyak berada di posisi US$ 46,04 per barel.

Apa yang menyebabkan tren penurunan harga minyak dan seperti apa dampaknya terhadap bursa saham? Untuk mengetahui jawabannya, jurnalis KONTAN Marantina Napitu mewawancarai Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Asset Management di kantornya. Berikut petikan dialog mereka, Rabu, pekan lalu.

KONTAN: Apa faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak di tahun ini?
LANA:
Sebetulnya, walau tren penurunan harga terjadi di tahun ini, rata-rata harga minyak di 2017 masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga di tahun lalu. Harga minyak tahun lalu pernah mencapai US$ 35 per barel. Kalau bicara penyebab, tren penurunan diawali produksi minyak yang besar.

Pada awal tahun, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) membuat kesepakatan untuk memangkas produksi minyak.

Tapi, sejak Maret hingga Desember 2016, negara-negara yang tergabung dalam OPEC sudah terlanjur meningkatkan produksi minyak mereka dalam jumlah besar. Akibatnya, pemangkasan itu tidak cukup efektif untuk menaikkan harga.

OPEC memasang target minyak di harga US$ 60 per barel tahun ini. Nyatanya, harga tertinggi tahun ini masih tertahan di US$ 55. Harga itu terjadi pada Maret lalu. Jika dilihat dari biaya produksi sebesar US$ 40 per barel, maka harga US$ 55  per barel menjadi sangat menarik.

Alhasil, produsen menambah produksi dengan mengekspor lebih banyak. Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama sehingga produksi minyaknya meningkat.

Feedback   ↑ x
Close [X]