: WIB    —   
indikator  I  

Harga optimisme

Oleh Barly Haliem Noe
Harga optimisme

Banyak orang tengah bimbang melihat perjalanan ekonomi Indonesia sekarang. Mereka bertanya-tanya, sebenarnya kondisi saat ini sedang bagus atau buruk, sih?

Jika menyimak sepak terjang sejumlah taipan, keraguan itu seharusnya tak ada. Ekspansi yang dinyalakan taipan Anthoni Salim, Chairul Tandjung, James Riady, keluarga Eka Tjipta Widjaja, Prajogo Pangestu maupun Arifin Panigoro, misalnya, tengah menyala-nyala.

Nyaris tak ada gambaran ekonomi Indonesia yang suram dan lesu jika melihat ekspansi mereka. Yang tampak adalah kesibukan menggelar ekspansi besar, memacu kapasitas bisnis, serta agresif membeli usaha baru.

Anthoni Salim, misalnya. Tahun ini pemilik Grup Salim itu membeli Bank Ina, masuk proyek infrastruktur bandara, hingga membeli perusahaan air bersih di Jakarta.

Dunia digital juga dimasukinya. Ia borong Elevenia dari XL Axiata, berkongsi dengan Lotte Korea membangun e-commerce, hingga berpatungan dengan Liquid Jepang untuk melahirkan usaha sistem pembayaran digital (e-payment). Di luar negeri, ia juga agresif membesarkan bisnis di Filipina dan Australia.

Seirama Anthoni, begitu pula Prajogo Pangestu. Tatkala sebagian pebisnis merasa usahanya mengerut, pemilik Grup Barito ini justru melebarkan sayap usaha. Dia beli pabrik listrik panas bumi milik Chevron Amerika Serikat senilai US$ 2,4 miliar sehingga menyandang predikat pemain panas bumi kelas dunia, serta masuk pembangkit listrik 2x1.000 MW bernilai miliaran dollar.

Si angsa bertelur emasnya, Chandra Asri Tbk, ia genjot agar merajai bisnis petrokimia. Nah, hitungan di atas kertas, periode 2015-2020, gergasi Prajogo menebar US$ 11,9 miliar setara Rp 161 triliun dan ditanam di Indonesia.

Feedback   ↑ x
Close [X]