: WIB    --   
indikator  I  

Hujan

Oleh Hendrika Y.
Hujan

Selasa (29/8) petang kemarin,  ada hujan di sebagian wilayah ibukota. Tentulah banyak orang mensyukuri hujan sesaat itu, menyegarkan setelah didera panas terik hari-hari sebelumnya. Begitu pun kemenangan tim sepakbola U23 Indonesia atas tim Myanmar dalam Sea Games 2017. Medali perunggu tetap menjadi hiburan bagi Indonesia yang sekarang ada di peringkat 5 perolehan total medali.  

Namun, satu hal fenomenal yang mengalahkan hujan sesaat serta kemenangan U23 adalah kesepakatan Pemerintah Indonesia dengan Freeport. Seperti kita tahu, sejak awal 2017 perundingan dengan perusahan pertambangan yang satu ini sangat alot, menjelang berakhirnya Kontrak Karya Freeport pada 2021.

Empat hal yang dirundingkan adalah kelanjutan operasi Freeport Indonesia, kewajiban membangun smelter, adanya ketentuan fiskal baru oleh Pemerintah Indonesia, dan keharusan melepas mayoritas saham kepada pihak Indonesia. Empat faktor inilah yang diamini oleh Freeport Indonesia.

Berkat kesepakatan ini, Freeport dapat beroperasi sampai tahun 2031 setelah kontraknya habis. Jika mematuhi semua poin yang disepakati, mereka bisa memperpanjang sepuluh tahun lagi. Pihak Freeport menyatakan akan menanam investasi sampai US$20 miliar sampai 2041 untuk membangun instalasi pertambangan. Divestasi dan smelter diperkirakan menelan biaya US$ 2 miliar. Sebagai perbandingan, dari tahun 1970, Freeport telah menginvestasikan dana US$12 miliar untuk membangun Grasberg.

Bagi sebagian dari kita, divestasi saham Freeport serasa melegakan. Akhirnya, setelah beberapa dekade mengeruk hasil tambang dari bumi Indonesia, kita boleh memiliki saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, ada juga yang menanggapi dengan pesimis. Hasil tambang sudah dikeruk nyaris habis, baru sahamnya direlakan buat kita. Atau, enak sekali ya, mereka mengontrak di rumah kita, sekarang kamarnya sudah jelek, eh kita yang disuruh beli.

Ada pengamat bilang kalau keberhasilan divestasi Freeport adalah keberhasilan Pemerintahan Jokowi. Lebih lagi, kesepakatan fiskal tersebut menguntungkan dompet negara yang sedang rindu pemasukan.

Bagaimanapun, semua kesepakatan ini barulah awal. Marilah kita semua mengawal terus perundingan selanjutnya tentang teknis penjualan saham, pembangunan smelter, dan sebagainya, agar semua berakhir baik serta menyegarkan bagi negara kita, seperti hujan sesaat di musim kemarau.                          

Feedback   ↑ x
Close [X]