: WIB    —   
indikator  I  

Idul Fitri dan perilaku ekonomi kita

Oleh Jony Eko Yulianto
( Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya )
Idul Fitri dan perilaku ekonomi kita

Hari Raya Idul Fitri semakin dekat. Para analis ekonomi memprediksikan bahwa jumlah perputaran uang akan meningkat pesat dan mencapai puncaknya pada rentang seminggu sebelum dan sesudah hari H lebaran. Harian KONTAN (31/05) mengafirmasi argumen itu dengan merilis berita bahwa empat Bank milik pemerintah menyetok dana cair hingga Rp 112 triliun.

Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, daya konsumsi masyarakat pun meningkat. Kebutuhan-kebutuhan untuk keperluan lebaran berlomba-lomba dipenuhi. Terlebih, kantor atau perusahaan memberikan tunjangan hari raya (THR). Pertanyaannya, mengapa saat Idul Fitri kita cenderung membelanjakan uang kita dengan lebih boros? Adakah penjelasan teoritis untuk menjelaskan fenomena ini?

Penjelasan tentang perilaku ekonomi pada konteks tertentu telah menjadi bahasan klasik yang diminati oleh psikolog sosial dan ekonom keperilakuan seperti Richard Thaler dan Daniel Kahneman. Tokoh-tokoh di atas dikenal sebagai tokoh utama bidang ekonomi keperilakuan (behavioral economics), yakni bidang ekonomi yang mempercayai bahwa perilaku ekonomi manusia dipengaruhi aspek psikologis, kognitif, dan sisi-sisi emosional manusia yang irasional.

Pandangan ekonomi keperilakuan ini merupakan antitesis dari pandangan ekonomi neo-klasik sebagaimana diperkenalkan oleh Adam Smith dan Jeremy Bentham. Ide utamanya adalah bahwa manusia adalah makhluk yang rasional dengan mengedepankan logika-logika ekonomi. Pandangan ini pula percaya bahwa pain and gain yang dirasakan oleh manusia ditentukan oleh seberapa jauh manusia berperilaku secara logis, yakni dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, berupaya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Dalam menjelaskan perilaku ekonomi saat Lebaran, kita akan lebih melihat kecenderungan manusia yang menunjukkan sisi irasionalnya. Pembelian barang dan jasa dilakukan dengan lebih royal dan tanpa kontrol. Kondisi ini semakin diperkuat dengan strategi marketing dari toko-toko yang membuat diskon besar-besaran berbatas waktu saat Lebaran tiba. Semua barang dan jasa terlihat lebih murah daripada biasanya. Individu terjebak dalam, meminjam istilah Jean Baudrillard, ruang-ruang simulakra.

Feedback   ↑ x
Close [X]