: WIB    —   
indikator  I  

Industri gula baru di Jawa

Oleh Adig Suwandi
( Praktisi Agribisnis, Analis Senior Nusantara Sugar Community )
Industri gula baru di Jawa

Peningkatan produksi gula menuju peringkat swasembada telah lama dicanangkan pemerintah.  Tetapi sejauh ini upaya tersebut belum menunjukkan greget berarti. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir capaian produksi semua pabrik gula (PG) berbasis tebu di seluruh negeri mengindikasikan terjadinya fluktuasi  di kisaran 2,2 juta sampai 2,5 juta ton, sementara kebutuhan untuk konsumsi langsung saja telah melesat melampaui 2,8 juta ton setahun.

Di luar gula konsumsi terdapat gula rafinasi,  yakni gula dengan kemurnian tinggi dan spesifikasi khusus, untuk keperluan industri makanan/minuman yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri, tetapi bahan baku berupa gula kristal mentah (raw sugar) masih harus diimpor.  Jumlahnya pun cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan kini berkisar 2,8 juta sampai 3,2 juta setahun.

Dampak anomali iklim dan harga begitu terasa signifikansinya terhadap capaian produksi dimaksud.  Iklim ekstrem basah meluluhlantakkan produksi, sementara harga rendah berimbas berkurangnya areal pengusahaan tebu rakyat tahun giling berikutnya. Pemerintah memang terus mendorong PG eksisting melakukan revitalisasi dengan harapan selain kapasitas giling meningkat, juga efisiensinya lebih baik. Harapan selanjutnya, biaya pokok produksi (unit cost) mampu bersaing dengan gula impor.

Di luar domain revitalisasi, pemerintah juga berharap makin banyak investor tertarik untuk masuk ke sub-sektor agroindustri gula. Meskipun investasi pembangunan PG baru idealnya mengarah ke Luar Jawa, fakta objektif menunjukkan sejumlah investor masih melihat Jawa sebagai peluang.  

Feedback   ↑ x
Close [X]