: WIB    --   
indikator  I  

Industri rokok dan beban kemiskinan

Oleh William Henley
( Founder Indosterling Capital )
Industri rokok dan beban kemiskinan

Geliat perekonomian sebuah negara tak dapat dilepaskan gerak sektor industri. Kontribusi yang dihadirkan industri pun beraneka. Tidak hanya dari segi ekspor-impor maupun pendapatan negara saja, melainkan juga dalam bentuk tenaga kerja. Indonesia, apabila kita mengacu kepada standardisasi Organisasi Pembangunan Industrial Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk ke dalam kelompok negara semi industri.

Basisnya adalah besaran kontribusi industri terhadap perekonomian nasional terhadap produk domestik bruto nasional (PDB) yang mencapai 20,8%. Sementara rentang kelompok negara semi industri, yaitu 20%-30%. Salah satu industri yang berperan dalam kegiatan perekonomian Tanah Air adalah industri rokok.

Bentuknya dapat kita simak dalam catatan berbagai kementerian, lembaga serta pihak swasta. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, industri rokok yang dikategorikan ke dalam industri hasil tembakau (IHT), memberi kontribusi signifikan dalam berbagai bentuk. Garis besarnya dua, yaitu penerimaan negara maupun penyerapan tenaga kerja.

Tercatat pada tahun lalu, total nilai cukai yang dibayarkan dari IHT mencapai Rp 138,69 triliun atau 96,65% dari total cukai nasional. Jika diperinci, menurut Ernst and Young dalam penelitian bersama Universitas Indonesia, persentase kontribusi perpajakan industri rokok sebesar 52,7%. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi industri properti dan konstruksi (15,7% ), telekomunikasi (3,0%) hingga kesehatan dan farmasi (0,9%).

Kemudian dari sisi penyerapan tenaga kerja, tercatat jumlah pekerja di industri rokok sebanyak 5,98 juta pekerja. Perinciannya 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi serta sisanya di sektor perkebunan.

Di perkebunan tembakau dan cengkih tercatat 1,7 juta petani yang terlibat langsung. Pendapatan mereka per hektare berada pada rentang Rp 51 juta hingga Rp 54 juta atau lebih besar dibandingkan petani kelapa sawit, yakni Rp 19 juta sampai dengan Rp 29 juta.

Feedback   ↑ x