: WIB    --   
indikator  I  

Investasi di uang digital

Oleh Vinsensius Sitepu
( Pendiri MahapalaMultimedia )
Investasi di uang digital

Kendati sudah dinilai mahal, harga bitcoin diproyeksikan masih akan terbang hingga kisaran Rp 80 juta  hingga Rp 100 juta rupiah dalam 6 sampai 12 bulan mendatang. Jika proyeksi itu tercapai, bitcoin akan sulit terjangkau oleh orang kebanyakan. Apalagi, para pemain kecil.

Bagi yang kesulitan membeli bitcoin, silakan menengok ratusan valuta virtual lain yang diperdagangkan secara global. Jika merujuk ke coingecko.com, ada 480 mata uang virtual. Sebagian memang sudah tidak aktif sama sekali. Bahkan, ada yang mati karena tak laku.

Valuta digital yang lain masih bertempur untuk memperebutkan posisi 10 atau 20 teratas dunia. Ini merupakan perwujudan dari nilai yang dimilikinya, di mana capital market-nya sudah sangat besar

Mungkin Anda bertanya: bukankah valua virtual seperti bitcoin awalnya tidak dibuat oleh perusahaan atau organisasi tertentu untuk meraup untung dari perdagangan ini? Lalu bagaimana dengan kripto valuta selain bitcoin?

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya adalah benar. Sedang pertanyaan kedua terjawab agak kontradiktif dengan filosofi mata uang virtual yang seharusnya desentralistik, baik secara sistem dan regulasi.

Untuk valuta digital itu tak terjadi karena teknologi mata uang virtual diasaskan pada teknologi blockchain (distributed ledger), baik public atau private.

Teknologi ini sendiri dibangun dengan menggabungkan baik teknologi open source maupun teknologi berlisensi, seperti peer-to-peer dan cryptology. Karena sejatinya ia open source, maka setiap programmer bisa mengaturnya sesuai kebutuhan dan menciptakan token sebagai mata uang virtual yang siap dijual.

Dan itu dapat dilakukan secara mudah dan cepat. Teknologi itu berkembang pesat sejak 2008 dan terpecah menjadi banyak varian. Ratusan perusahaan ingin berkecimpung di dunia keuangan baru ini. Itulah sebabnya kehadiran banyak mata uang virtual pun didorong oleh perusahaan-perusahaan itu.

Nah, di sini berlaku hukum rimba ekonomi. Selayaknya produk, laku atau tidaknya di pasar, akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan yang membuatnya.

Perusahaan harus punya dana segunung untuk riset dan pengembangan peranti lunak, menyewa kantor dan menggaji karyawan, menyewa komputer server.

Belum lagi, ia harus memastikan ketersediaan exchange untuk transaksi dan menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan ternama. Dan tentu, mengeluarkan biaya promosi dan publikasi intensif untuk menunjukkan bahwa mata uang virtualnya adalah yang terbaik, teruji, aman, dan lebih cepat ditransmisikan.

Ketika syarat-syarat itu dipenuhi, baru nilai uang terkerek cepat. Beberapa di antaranya hanya butuh waktu bulanan seperti LiteCoin. Ada juga yang butuh tempo tiga tahun, seperti DigiByte, yang meroket setelah kerjasama dengan CitiGroup dalam penerapan smart contract bernama DiguSign.

Ada beberapa alat ukur yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah mata uang virtual memiliki potensi besar di masa depan. Atau dengan kata lain, menentukan peringkat mata uang itu di tingkatan pasar global, yakni minat publik, komunitas, pengembangan kode, likuiditas, dan market capital.

Feedback   ↑ x
Close [X]