: WIB    —   
indikator  I  

Jangan menjadi katak dalam tempurung

Oleh Teddy Oetomo
( Head of Intermediary Business Schroders Investment Management Indonesia )
Jangan menjadi katak dalam tempurung

Setelah mempertimbangkan perbedaan tingkat risiko, dana investasi akan selalu mengalir dari tempat yang memberikan potensi keuntungan lebih rendah ke lebih tinggi. Ini seperti hukum alam yang tidak akan dapat dirubah. Di sinilah pentingnya analisa dilakukan secara menyeluruh dengan membandingkan kinerja ekonomi dan pasar modal Indonesia dengan negara lain. Bila analisa hanya terpusat di Indonesia, terkadang kita menjadi seperti katak dalam tempurung.

Sebagai contoh nyata kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun 2017 yang mencapai 20%. Kinerja tersebut sejatinya pencapaian yang cukup membanggakan. Namun, kinerja IHSG masih lebih rendah dibandingkan kinerja  dari MSCI Asia diluar Jepang (39%), MSCI Asia Pasifik (29%), MSCI negara berkembang (34%), Hong Kong (36%), India (28%), Filipina (25%) bahkan Vietnam (48%).

Kinerja dari bursa saham Asia ditopang oleh fundamental yang memadai. Di 2017, oleh para pengamat, bursa saham Indonesia diprediksi mencatatkan pertumbuhan laba bersih 16%, yang bila tercapai, merupakan hasil yang cukup membanggakan. Namun, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 21,8% rata-rata pertumbuhan laba bersih yang diharapkan untuk bursa saham Asia di luar Jepang.

Hasil analisis di atas menjadi alasan mengapa investor asing melakukan aksi ambil untung di bursa saham Indonesia sekitar Rp 40 triliun di tahun 2017. Sekalipun aksi penjualan sekitar Rp 40 triliun itu dapat dikatakan terbesar sepanjang sejarah, sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan.

Kepemilikan asing di bursa saham Indonesia naik dari sekitar Rp 1.690 triliun di akhir 2016 menjadi sekitar Rp 1.960 triliun di akhir 2017. Maka, sebenarnya investor asing mencatat keuntungan lebih dari Rp 300 triliun dikarenakan kenaikan nilai dari investasi mereka di 2017.

Dari keuntungan lebih dari
Rp 300 triliun, investor asing melakukan aksi pengambilan untung sekitar Rp 40 triliun, atau hanya sekitar 13% dari total keuntungan yang didapatkan. Artinya, sekalipun aksi penjualan asing sekitar Rp 40 triliun tergolong besar, sebenarnya mereka dapat dikatakan tidak menjual sepeser pun dari modal awal investasi mereka dan hanya menjual sebagian kecil dari hasil keuntungan yang mereka dapatkan selama tahun 2017.

Sebagai ilustrasi, seorang investor menanam modal Rp 100 juta dan mendapat keuntungan Rp 18,5 juta selama setahun. Dari keuntungan Rp 18,5 juta, investor tersebut mengambil keuntungan Rp 2,4 juta.

Oleh karena itu, dapat dilihat bagaimana sebenarnya investor tersebut tidak memiliki pandangan negatif terhadap investasinya karena seluruh modal dan sebagian besar dari keuntungan diinvestasikan kembali. Contoh ini sekali lagi menggambarkan pentingnya sebuah analisis dilakukan secara relatif guna mendapatkan pandangan yang lebih akurat dan representatif.

Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa dengan kenyataan pengambilan keuntungan, sekalipun hanya sebagian, artinya investor asing tidak memiliki pandangan yang sangat positif pula akan Indonesia. Bila investor asing memiliki pandangan yang sangat positif, tentunya mereka tidak akan mengambil untung sepeser pun, dan bukan tidak mungkin akan menambahkan porsi investasi di bursa saham Indonesia. Langkah yang diambil investor asing sebenarnya cukup mudah dipahami.

Seperti yang dibahas di atas, sekalipun Indonesia diprediksi mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup menarik, 20%, angka itu sebenarnya lebih rendah dibanding dengan rata-rata pertumbuhan laba bersih yang diharapkan negara Asia lainnya diluar Jepang. Maka dapat dipahami bila investor asing mengambil sebagian dari keuntungan dari bursa saham Indonesia dan memindahkannya ke negara lain yang memberi potensi keuntungan yang lebih menarik.

Feedback   ↑ x