| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kemudahan berbisnis di era digital

Senin, 02 April 2018 / 16:26 WIB

Kemudahan berbisnis di era digital

Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam peringkat kemudahan berbisnis selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dari  semula berada di peringkat 120 pada tahun 2014 langsung menjadi posisi ke  72 pada tahun 2017.  Peringkat yang dikeluarkan Bank Dunia tersebut merupakan capaian yang dianggap membanggakan oleh rezim saat ini karena, setidaknya sejak 2008, peringkat Indonesia selalu berkutat di sekitar angka 120 saja.

Selain itu, capaian tersebut juga dianggap sebagai berhasilnya deregulasi untuk mengundang investasi di Indonesia. Artinya, pemerintah dianggap telah melakukan progres signifikan dalam mengurangi hambatan bagi para investor untuk berbisnis dan memberikan insentif untuk pembangunan ekonomi domestik.

Namun, peningkatan peringkat kemudahan berbisnis tersebut tidak lah cukup untuk bisa mendongkrak investasi. Saat ini, peringkat kemudahan berbisnis Indonesia masih berada di bawah rata-rata peringkat negara-negara Asia Timur dan Asia Pasifik yang berada pada angka 62,7.

Itu berarti bahwa kemudahan berbisnis di Indonesia belum cukup sejajar dengan negara sekawasan tersebut pada umumnya. Itu juga berarti bahwa  masih banyak pekerjaan rumah yang menanti untuk menciptakan lingkungan bisnis yang mendukung pertumbuhan ekonomi bagi negara kita.

Tak hanya itu, kenaikan peringkat dari 120 ke 72 yang dialami Indonesia juga sebenarnya patut dipertanyakan. Pertengahan Januari 2018 lalu, Chief Economist Bank Dunia Paul Romer mengakui adanya penilaian yang tidak adil dalam pemeringkatan kemudahan berbisnis.

Korban utama dari adanya politisasi metodologi penilaian kemudahan berbisnis adalah negara Chili. Peringkat kemudahan berbisnis Chili naik saat Sebastian Pinera, Presiden dari kubu konservatif, memimpin dan peringkat tersebut turun saat Michelle Bachelet, Presiden dari kubu sosialis, memimpin. Ada dugaan kuat metodologi yang dibangun bisa dimanipulasi untuk kepentingan politik tertentu.

Posisi negara-negara lain juga mengalami perubahan saat adanya perubahan metodologi penilaian di masa Paul Romer. Bahkan, Martin Rovellier, mantan Direktur Riset Bank Dunia, menyatakan bahwa penilaian kemudahan berbisnis yang dapat dipercaya hanya 10% teratas dan terbawah. Artinya, Indonesia patut mawas diri dan mudah tinggi hati karena bisa jadi kenaikan peringkat yang signifikan dalam tiga tahun terakhir ini sejatinya justru tidak mencerminkan lingkungan bisnis yang sebenarnya.



TERBARU
MARKET
IHSG
1,71
5.872,78
0.03%
 
US/IDR
14.520
0,71
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

×