: WIB    —   
indikator  I  

Kenapa harus berobat ke Penang?

Oleh Baharuddin Aritonang
( Pengamat Sosial )
Kenapa harus berobat ke Penang?

Judul tulisan di atas  semestinya adalah tidak harus ke Penang, Malaysia tapi pergi keluar negeri seperti pada umumnya yang terjadi.  Ini untuk menyoroti semangat yang berkembang di sebagian anggota masyarakat belakangan ini, yang merasa lebih “maknyus” kalau sudah berobat ke negara lain. Ketimbang berobat atau bertandang ke rumahsakit yang ada di Tanah Air.

Kalau diperhatikan, kebiasaan sebagian orang Indonesia tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Misalnya, berobat ke negara tetangga terdekat, yakni  Singapura. Ini terutama terjadi di kalangan orang-orang kaya dan pejabat dari ibukota.

Pantas disayangkan, meskipun pelayanan kesehatan di dalam negeri saat ini sudah relatif sama dengan luar negeri, toh semangat warga Indonesia berobat ke luar negeri masih tetap tinggi. Yang terjadi sekarang hanyalah pergeseran kelas strata sosial warga yang berobat ke luar negeri. Kalau dulu, cuma kalangan atas  yang berobat ke luar negeri, tapi kini justru menyebar ke kalangan kelas menengah.

Nah, selain Singapura, yang menjadi tempat populer lain untuk berobat dan memelihara kesehatan adalah Penang, di semenanjung Malaysia. Terutama bagi sebagian besar penduduk yang bermukim di Pulau Sumatra.

Di kalangan masyarakat Medan dan sekitarnya, berobat ke Penang sudah menjadi semacam “mode”. Menjadi tolok ukur. Belum terasa lengkap kalau belum berobat ke Penang. Baru-baru ini, seorang anggota keluarga saya dibawa berobat ke Penang. Tapi, karena dia sudah kena kanker stadium tinggi, akhirnya meninggal juga. Dengan membawanya ke Penang, keluarga meras segala upaya perobatan telah dilakukan secara maksimal.

Berobat ke luar negeri, seperti ke Penang, lazim terjadi di semua lapisan masyarakat kita. Termasuk di kalangan keluarga terdidik (termasuk dibidang kedokteran) dan kalangan pejabat.

Seorang teman saya yang menjadi petinggi di Universitas Sumatera Utara (USU) juga secara rutin memelihara kesehatannya di Penang. Padahal, saat ini, beragam jenis pelayanan kesehatan bisa ditemukan di Medan. Fakultas Kedokteran USU saja sudah berusia puluhan tahun, dan bidang keahlian kedokteran pun tentu sudah cukup lengkap di situ. Sebuah rumahsakit modern, malah berdiri di kampus USU, yang sepenuhnya dikelola para ahli.

Beberapa hari lalu, muncul berita di koran lokal bahwa Wakil Walikota Medan juga berobat ke Penang. Bahkan dengan kecap promosi. Padahal selain RS USU di atas, Medan memiliki banyak rumahsakit penting lainnya. Di antaranya RS Adam Malik, RS Pirngadi, juga rumahsakit lain yang merupakan jaringan rumahsakit luar negeri.

Mengapa harus berobat sampai ke Malaysia, khususnya Penang? Rupanya proses mendiagnosa penyakit di Penang bisa berlangsung lebih cepat dan tepat. Layanannya pun begitu  profesional dan ramah terhadap para pasien. Dan yang tak kalah penting, ternyata biayanya pun masih relatif murah.

Bayangkan, calon pasien bisa dijemput di bandara setempat. Kondisi ini membuat jumlah pasien yang berobat ke sana bertambah.  Promosi itu tampaknya tak mempersoalkan keahlian. Karena soal soal keahlian, tampaknya kini sudah merata, begitu pula dengan penggunaan alat-alat kedokteran modern.

Feedback   ↑ x
Close [X]