: WIB    —   
indikator  I  

Ketika bank melirik modal ventura

Oleh Paul Sutaryono
( Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI )
Ketika bank melirik modal ventura

Beberapa bank papan atas berencana untuk membentuk perusahaan modal ventura. Tengok saja, BCA telah mendapatkan restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendirikan PT Central Capital Ventura dan Bank Mandiri dengan Mandiri Capital Indonesia (MCI). Sementara BRI dan BNI baru sebatas tertarik mendirikan perusahaan modal ventura (Harian KONTAN, 22 Juni 2017). Bagaimana prospek perusahaan modal ventura (PMV)?

Bagaimana perkembangan bisnis modal ventura? Modal ventura meliputi tiga bidang bisnis yakni penyediaan saham, obligasi konversi dan pembiayaan bagi hasil. Statistik Lembaga Pembiayaan yang diterbitkan OJK pada 21 Juni 2017 menunjukkan bahwa secara total, bisnis modal ventura tampak tumbuh kurang subur atau hanya naik 1,05% dari Rp 6,68 triliun per April 2016 menjadi Rp 6,75 triliun per April 2017.

Pertumbuhan itu disumbang oleh bisnis penyediaan saham (shares) yang tumbuh 3,70% dari Rp 1,08 triliun menjadi Rp 1,12 triliun dan bisnis pembiayaan bagi hasil (profit/revenue sharing) tumbuh lebih subur 9,98% dari Rp 4,61 triliun menjadi Rp 5,07 triliun. Sebaliknya, bisnis obligasi konversi (convertible bonds) justru menipis 28,37% dari Rp 786 miliar menjadi Rp 563 miliar.

Selama ini PMV lebih banyak membiayai sektor perdagangan, restoran dan hotel disusul sektor pertambangan, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, sektor industri, sektor konstruksi. Selain itu, sektor jasa pendukung bisnis, sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi dan sektor jasa sosial dan masyarakat serta sektor lain-lain.

Bagaimana perkembangan PMV yang tampak dari indikator keuangan? Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tampak membaik dari 96,39% per April 2016 menjadi 90,96%. Angka itu mengandung arti bahwa tingkat efisiensi PMV makin baik meskipun masih harus mengejar ambang batas tingkat efisiensi 70%-80%.

Sementara itu, imbal hasil aset (return on assests/ROA) juga tampak membaik dari 1,50% menjadi 2,70% jauh di atas atau hampir dua kali ambang batas 1,50%. Itu berarti bahwa kualitas aset semakin berkualitas sekalipun di tengah perlambatan ekonomi nasional. Sebaliknya, imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) juga membaik dari 3,52% menjadi 6,02%. Artinya, kualitas ekuitas untuk menghasilkan keuntungan makin membaik walaupun masih jauh dari ambang batas 12%.

Feedback   ↑ x
Close [X]