: WIB    --   
indikator  I  

Makna layak investasi

Oleh Paul Sutaryono
( Pengamat Perbankan dan Mantan Assistant Vice President BNI )

Akhirnya Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang memiliki peringkat utang layak investasi. Status  investment grade itu disandang Indonesia setelah Standard & Poors (S&P) menaikkan peringkat utang jangka panjang negeri ini dari BB+ menjadi BBB- dengan proyeksi stabil.

Sebelum mendapat vonis layak investasi dari S&P, Indonesia sudah mengantongi investasi peringkat serupa dari dua lembaga pemeringkat dunia lain, yaitu Fitch Ratings dan Moody’s Investor Service.

Sudah barang tentu, keputusan S&P itu menimbulkan sinyal positif di pasar modal yang tampak pada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai rekor harian tertinggi pada hari Jumat dua pekan lalu (19/5), yaitu 5.820.

Di hari itu, IHSG ditutup di posisi 5.791, atau naik 2,69% dibandingkan dengan posisi penutupan per Kamis (18/5). Oleh karena itu, target IHSG akan mencapai 6.000 pada akhir tahun akan menjadi kenyataan.

Buntut perbaikan peringkat  dari S&P juga sampai ke pasar uang. Sinyal positif tampak terang benderang pada nilai tukar rupiah yang mencapai level rendah Rp 13.403 per dollar AS ketika S&P menyampaikan pengumuman kenaikan peringkat pada Jumat, 18 Mei 2017.

Namun, apa makna dari status layak investasi itu? Pertama, sudah pasti kenaikan peringkat surat utang Indonesia itu akan menurunkan imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN).

Kenaikan peringkat otomatis akan mengundang investor asing untuk semakin menikmati investasi portofolio di pasar keuangan nasional dan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) di sektor riil.

Kedua, kenaikan peringkat itu juga mendorong penurunan credit default swap (CDS). Istilah terakhir ini merujuk ke kontrak swap di mana pembeli melakukan pembayaran ke penjual dan sebagai imbalannya menerima hak untuk memperoleh pembayaran apabila kredit mengalami default atau kejadian lain yang tercantum dalam credit event, seperti kebangkrutan atau restrukturisasi. Pada umumnya, CDS dimanfaatkan untuk mengasuransikan default suatu instrumen keuangan seperti obligasi dan utang perusahaan.

Ketika investor asing semakin membanjiri pasar keuangan, baik melalui investasi langsung maupun tidak langsung, maka aliran dana masuk (capital inflow) ke pasar keuangan akan makin deras. Aliran dana masuk ini tentu berpotensi menambah dana yang sudah masuk melalui program pengampunan pajak.

Aliran deras dana masuk itu juga akan membuat nilai tukar rupiah terhadap valuta asing semakin menguat. Harapan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan mencapai Rp 13.000 di akhir tahun ini semakin dekat untuk terwujud. Sungguh, harapan itu bukan lagi mimpi di siang bolong.

Ketiga, tentu kita berharap bahwa aliran dana masuk ke pasar keuangan juga akan mengendap di sektor riil seperti infrastruktur, konstruksi dan properti. Ketiga sektor itu mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Itu penting untuk menekan tingkat pengangguran. Tengok saja, sekarang ini sektor properti mulai bergerak. Lebih dari itu, dana masuk juga diharapkan dapat mengalir ke dana investasi real estate (DIRE).

Feedback   ↑ x
Close [X]