: WIB    —   
indikator  I  

Medsos untuk berbisnis, bukan berpolitik

Oleh Husni Arifin
( Praktisi Bidang Komunikasi )
Medsos untuk berbisnis, bukan berpolitik

Media sosial (medsos) menjadi salah satu tertuduh utama sebagai biang penyebaran kebencian dan perpecahan sejak saat menjelang Pemilihan Presiden 2014 hingga Pilkada DKI Jakarta. Kebencian antar etnis, haluan politik, agama, bahkan antar golongan dengan agama yang sama pun terumbar dengan seronoknya di media publik berbasis digital tersebut.

Gasak-gasakan antaranak bangsa di medsos seakan tak mereda bahkan makin keterlaluan. Hal ini diperparah dengan munculnya pihak-pihak tertentu yang sengaja mengail di air keruh, memanfaatkan kegaduhan untuk mengeruk keuntungan dari mempermainkan emosi publik.  Tudingan terhadap medsos tersebut di atas bisa jadi ada benarnya. Tentu saja yang salah bukan medsosnya, tetapi orang-orang yang menggunakan medsos, terlepas mereka paham atau tidak tentang cara kerja rata-rata platform media sosial. Bagaimana bisa?

Pertama, medsos dalam berbagai ragam platform memiliki kesamaan, yaitu pada desain alur komunikasi yang diciptakan. Alurnya adalah searah linier, kita sebut saja begitu. Maksudnya adalah pada desain alur linear, seseorang hanya akan terkoneksi dengan orang-orang atau pengguna medsos yang dia pilih sendiri. Ada fitur untuk follow dan unfollow.

Arus komunikasi yang linear ini akan membawa seseorang yang ada di dalamnya terhanyut dalam kesamaan pendapat yang cenderung sama. Apalagi, tidak ada pula fitur unlike di kebanyakan medsos mainstream, seperti antara lain Facebook. Tanpa fitur unlike, mengurangi kesempatan orang untuk berbeda pendapat.

Kedua, dasar pemilihan siapa orang yang akan di-follow, tentu lebih karena memiliki kesamaan dengan dirinya. Itu naluri alamiah. Termasuk mengenai kesamaan haluan politik, hingga sikap politik kepada pemerintah.

Ketiga, munculnya pihak-pihak yang memanfaatkan kegaduhan publik untuk menangguk keuntungan. Pihak-pihak ini sadar mereka bisa memanfaatkan sifat alur komunikasi linear yang ada pada medsos.  Mereka paham apa yang akan terbangun dari alur komunikasi model seperti itu, dan apa yang bisa mereka manfaatkan.

Dalam wawancara di suatu televisi, pelaku media mirip pers yang memproduksi berita-berita hoax dan fitnah mengakui sengaja melakukan adu domba. Mereka memproduksi hoax yang menyerang kedua pihak menggunakan media berbeda. Hasilnya, akses ke media abal-abal yang mereka buat terus meningkat, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai referensi. Ujungnya, pendapatan rata-rata setiap bulan antara puluhan hingga ratusan juta untuk satu media yang dipakai.

Feedback   ↑ x
Close [X]