: WIB    —   
indikator  I  

Melihat lagi rupiah

Oleh Barly Haliem Noe
Melihat lagi rupiah

Para pejabat, tim ekonomi kabinet, ekonom dan analis pasar keuangan sedang bingung melihat gejala anomali ekonomi Tanah Air. Indikator makro ekonomi bagus,  inflasi terkendali rendah, dan Indonesia baru saja mendapat sertifikat investment grade dari Standard and Poor's (S&P).

Namun di sisi lain, industrialis dan pelaku usaha riil mengeluhkan susahnya mencari uang saat ini. Yang terang, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi  gejala tersebut. Kuartal II-2017, ekonomi tumbuh 5,01% atau setara dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2017. Angka itu lebih rendah dibanding dengan pertumbuhan kuartal II-2016 yang sebesar 5,08%.

Dus, apa yang salah dengan ekonomi kita? Berbagai teori dan analisis mengemuka untuk menjelaskan fenomena tersebut. Termasuk dugaan   tren e-commerce sebagai biang keladi pelambatan laju ekonomi. Sejauh ini belum ada yang terbukti benar dan mengungkap secara persis penyebab anomali ekonomi ini.

Namun, ada satu hal yang mengusik dan luput dari perhatian kita selama ini: gerak-gerik rupiah selalu seirama dengan laju industri manufaktur Tanah Air. Korelasi keduanya begitu intim. Guncangan pada rupiah sama artinya dengan turunnya tingkat kesehatan industri.

Jika menarik tren rupiah dalam horizon yang lebih panjang, korelasi pelemahan kurs rupiah dengan kelesuan industri manufaktur tampak lebih gamblang. Lima tahun terakhir, sebagai contoh, rupiah melemah 40% terhadap dollar AS, terburuk di ASEAN, dan peringkat ketujuh mata uang paling jatuh di jajaran 20 negara anggota G20. Saat bersamaan, laju industri dalam negeri  turun 38% di periode yang sama.

Data Kementerian Perindustrian setidaknya memperkuat eratnya hubungan kurs rupiah dan kemampuan industri. Rupanya 70% bahan baku industri dalam negeri masih dipenuhi impor. Alhasil, bila rupiah melemah, kemampuan ekspansi usaha berkurang akibat terhalang bahan baku yang semakin mahal.

Nah, kelesuan industri manufaktur ini tidak bisa dianggap sepele karena paling banyak menyerap tenaga kerja. Tak heran, saat industri lesu, daya serap industri Tanah Air juga menyusut. Dari rata-rata tiap semester menyerap 735.000 orang tenaga kerja, semester I-2017 hanya menyerap 534.457 orang (Harian KONTAN, edisi 2 Agustus 2017).

Moral ceritanya, apakah kejatuhan rupiah berandil besar terhadap kelesuan industri? Entahlah. Yang terang, pebisnis memang menyukai kurs yang stabil karena memudahkan perencanaan bisnis. Tapi, rupiah yang lebih kuat juga meringankan kita semua.                            

Feedback   ↑ x
Close [X]