kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.546
  • SUN103,81 -0,11%
  • EMAS603.986 -0,83%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Memahami fenomena tahunan mudik

Kamis, 22 Juni 2017 / 11:39 WIB

Memahami fenomena tahunan mudik

Bagi masyarakat Indonesia, ritual Idul Fitri sebagai penanda diraihnya kemenangan pasca-sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan tergolong unik. Cara ini tidak juga ditemukan di negara mayoritas berpenduduk muslim, bahkan di Arab Saudi, negeri untuk pertama kalinya Islam diwahyukan dan diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam rangka penyempurnaan akhlak manusia.

Masyarakat kita di mana pun berada melihat Lebaran bukan hanya kesempatan untuk bersilaturrahmi dengan para tetua, handai taulan, kerabat dan teman satu komunitas di masa lalu, melainkan juga sarana berbagi setelah setahun atau lebih meninggalkan kampung halaman menelusuri jalan menuju perbaikan nasib. Perjalanan jauh untuk mencapai kampung halaman, tanah kelahiran, domisili para tetua, dan tempat-tempat yang di masa lalu memberikan kesan dan inspirasi  mendalam bagi seseorang atau keluarga menjadi episentrum gerakan nasional bertajuk mudik

Pemerintah pun tidak hanya menambah masa cuti bersama menjadi lebih panjang sebagaimana amanat Keputusan Presiden 18/2017, tetapi juga memfungsikan sejumlah ruas jalan tol baru yang sebenarnya belum tuntas pekerjaan fisiknya. Sebut saja ruas jalan tol baru Surabaya-Kertosono di Jawa Timur yang dioperasikan selama liburan Lebaran meski beberapa pekerjaan, seperti pemasangan rambu lalu lintas dan lampu penerangan jalan, belum terpasang.

Semuanya dilakukan guna mereduksi gradasi kemacetan arus  lalu lintas di sepanjang jalur utama agar waktu tempuh perjalanan para pemudik bisa lebih singkat.  Kemajuan teknologi informasi yang praktis memudahkan metode berkomunikasi personal  tidak juga meluluhkan antusiasme masyarakat melakukan mudik. Satu-satunya cara yang harus dilakukan pemerintah tampaknya hanya mengelola fenomena mudik secara konstruktif agar memberikan dampak sosial-ekonomi lebih dahsyat terhadap kemajuan daerah tujuan melalui penyediaan infrastruktur dan kebutuhan diperlukan secara proporsional.  Dengan begitu, multiplier effects berupa terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha baru di daerah bisa terdesain.



Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Hayam Wuruk
07 March 2018 - 08 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]