kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.590
  • EMAS593.896 0,51%

Membakar nafsu di bulan Ramadan

Rabu, 16 Mei 2018 / 11:17 WIB

Membakar nafsu di bulan Ramadan



Menahan diri

Kita sering salah memahami definisi dari nafsu itu sendiri. Kita biasanya mengidentikkan nafsu dengan keburukan, kebejatan, atau keserakahan. Padahal, nafsu secara bahasa adalah bermakna jiwa, atau ruh. Hal itu bisa kita lihat dari firman Allah SWT, "Dan jiwa (nafs) serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan (QS. Asy Syams: 7-8).

Jika kita memahami ayat tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa nafsu itu ternyata bersifat netral, tidak kiri tidak kanan alias berada di tengah-tengah. Dengan kata lain, nafsu itu tidak bersifat baik dan juga tidak bersifat buruk. Namun, dalam penciptaannya, Allah SWT hanya memberika ilham (potensi) terhadap nafsu tersebut, yaitu nafsu bisa dibawa ke arah kebaikan dan kejahatan.

Dalam ajaran Islam, agama ini tidak pernah mengajarkan untuk membunuh nafsu. Akan tetapi, Islam datang untuk mengendalikan nafsu manusia. Jika memang keberadaan nafsu itu tidak untuk dimatikan. Pertanyaannya berikutnya adalah bagaimana manusia dikatakan telah dapat mengendalikan atau memenuhi tuntutan nafsu dengan benar, padahal nafsu itu senantiasa menuntut untuk dipenuhi dan dipuaskan? Jawabannya adalah nafsu senantiasa harus didampingkan dengan ajaran-ajaran Islam. Manusia dikatakan mengikuti hawa nafsu ketika manusia tersebut tidak mengikuti ajaran Islam.

Misalnya saja, kita mempunyai nafsu lapar, tetapi kita memenuhi rasa lapar tersebut dengan memakan makanan yang haram atau mendapatkannya dengan cara mencuri. Kita mempunyai nafsu belanja, tetapi kita memenuhinya dengan barang haram atau membeli barang tersebut dari hasil korupsi. Kita mempunyai nafsu berkuasa, namun kita mendapatkan kekuasaan itu dengan melakukan politik uang atau bermain curang saat pemilihan umum. Dan masih banyak lagi contoh yang bisa kita temukan dalam diri kita sendiri atau orang lain yang mencerminkan pemenuhan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Contoh lainnya adalah, kita puasa berbicara. Artinya, kita menahan diri membicarakan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Dalam percaturan politik seperti sekarang ini, calon kepala daerah dan calon presiden tentu harus mendisiplinkan dirinya untuk tidak menjelek-jelekkan atau memfitnah lawan-lawan politiknya. Para pendukung masing-masing calon penguasa juga harus melakukan hal yang sama yaitu: berpuasa dari melakukan pembicaraan yang buruk.

Oleh karena itu, puasa Ramadan kali ini perlu dijadikan kesempatan emas untuk bisa mendidik nafsu kita dengan cara mengendalikan keinginan-keinginan yang dilarang oleh ajaran Islam. Keinginan untuk makan, minum, berkarir, berkuasa, dan lain sebagainya harus bersandar pada semangat Islam.

Harapannya setelah Ramadan selesai, kita bisa menjadi manusia yang benar-benar suci, sungguh-sungguh kembali ke fitri. Jangan biarkan diri kita menderita kelaparan dan kehausan dengan tidak memperoleh apa-apa selain haus dan lapar itu sendiri hanya karena pesan moral ibadah puasa tersebut kita lupakan.

Melihat hal tersebut di atas, kita tidak cukup hanya mengendalikan nafsu makan, minum, atau seks sebagaimana biasanya dalam berpuasa. Kita juga harus bisa mengendalikan nafsu-nafsu kita yang lain yang jumlahnya banyak sekali.


Ahmad Ubaidillah
Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan


Reporter: Tri Adi

TERBARU
MARKET
IHSG
108,39
5.892,19
1.87%
 
US/IDR
14.578
-0,28
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×