: WIB    —   
indikator  I  

Memosisikan surat berharga

Oleh Haryo Kuncoro
( Direktur Riset SEEBI dan Staf Pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta )
Memosisikan surat berharga

Bank Indonesia (BI) tampaknya terus mencari formula yang tepat untuk meredam risiko likuiditas di pasar finansial domestik. Tantangan terdekat yang akan dihadapi pasar finansial global adalah rencana The Fed untuk menaikkan bunga acuan di Negeri Paman satu kali lagi serta normalisasi neraca keuangan senilai US$ 42 triliun.

Upaya BI mempertahankan suku bunga acuan, 7-Day Reverse Repo Rate, selama 10 bulan terakhir berturut-turut cukup membantu menahan aliran modal keluar negeri (capital outflow).

Namun, arah aliran uang panas di pasar keuangan alias hot money tidak pernah dapat diprediksi. Ia  bisa berbalik arah dengan cepat meninggalkan pasar.

Dalam pandangan BI, mumpung perekonomian domestik memasuki era inflasi rendah, saatnya BI lebih fokus ke sisi likuiditas daripada mengubah suku bunga acuan dalam menghadapi gejolak eksternal. Alhasil, mulai tahun depan BI memberi ijin sektor korporasi untuk menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK).

Melalui SBK, korporasi memiliki instrumen untuk mencari dana secara langsung di pasar uang. Kebijakan BI ini menawarkan alternatif pembiayaan di tengah kesulitan korporasi mendapatkan tambahan modal.

Selama ini, sektor korporasi mencari dana publik melalui penawaran saham perdana, rights issue, atau penerbitan obligasi untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjang.

Masuknya sektor korporasi di pasar keuangan niscaya meninggikan tensi persaingan dalam memperebutkan dana. Pemain lama, seperti perbankan dan industri keuangan non-bank, dalam statusnya sebagai korporasi, juga tengah gencar berburu dana.

Feedback   ↑ x
Close [X]