: WIB    --   
indikator  I  

Menakar prospek ekonomi 2017

Oleh Chandra Bagus Sulistyo
( Manajer Riset Bisnis & Ekonomi Divisi Perencanaan Strategis Bank BNI )
Menakar prospek ekonomi 2017

Prospek perekonomian Indonesia 2017 cukup menggairahkan, hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju. Pertumbuhan ekonomi tersebut, berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) April 2017 yang dirilis IMF, dimana proyeksi ekonomi Indonesia tumbuh tertinggi ketiga di bawah Filipina dan Vietnam.  

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia di prediksi naik 5,1% pada tahun ini dan 5,3% pada 2018. Pertumbuhan ekonomi nasional juga dikuatkan sinyalemen World Bank berupa laporan East Asia and Pacific Economic Update April 2017, yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata pada 2017-2019 sebesar 5,3%.

Tren positif pertumbuhan ekonomi nasional 2017, ter-capture dari indikator-indikator ekonomi baik melalui perspektif internal dan eksternal. Indikator pertumbuhan ekonomi secara perspektif internal ialah pertama, peningkatan kinerja ekspor nasional, kedua, serapan belanja pemerintah yang membaik, dan ketiga, suksesnya program pemerintah yaitu tax amnesty dan dana repatriasi. Adapun indikator pertumbuhan ekonomi secara perspektif eksternal terlihat dari; pertama, meningginya kepercayaan pemeringkat internasional. Kedua, membaiknya ekonomi China dan dampak positif kenaikan suku bunga AS terhadap ekonomi Indonesia.

Indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia secara perspektif internal dapat dilihat dari pertama, kinerja ekspor nasional yang bergerak menuju tren positif. Bila permintaan ekspor dari negara luar begitu tinggi, akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan ekonominya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Maret 2017 mencapai US$14,59 miliar atau meningkat 23,55% dibanding ekspor Maret 2016. Nilai neraca perdagangan Indonesia Maret 2017 mengalami surplus US$ 1,23 miliar, hal itu dipicu surplus sektor non migas US$ 2,02 miliar. Surplus nonmigas itu didominasi membaiknya harga komoditas (seperti sawit, tembaga, batubara, bijih besi, nikel, karet dan gandum).

Kedua, serapan belanja pemerintah yang membaik. Hingga 31 Maret 2017, pemerintah sudah menyerap Rp 400 triliun atau mencapai 16,9% untuk belanja negara. Ini menunjukkan realisasi APBN pada kuartal I lebih tinggi dibanding periode sama 2016, total belanja negara mencapai Rp 390,9 triliun. Belanja negara pada pemerintah pusat di kementerian dan lembaga tercatat mencapai Rp 92,4 triliun. Angka ini lebih tinggi 12,1% dibanding tahun 2016 pada periode yang sama menghabiskan sekitar Rp 82,7 triliun. Dimana, jumlah serapan APBN/APBD dapat mempengaruhi konsumsi masyarakat sehingga berakibat peningkatan ataupun penurunan laju pertumbuhan ekonomi. Karena harus diakui, bahwa selama ini, penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh tingginya tingkat konsumsi masyarakat.

Ketiga, suksesnya program pemerintah yaitu tax amnesty dan dana repatriasi. Hasilnya, berdasarkan Surat Pernyataan Harta (SPH) total harta yang dilaporkan para wajib pajak mencapai Rp 4.855 triliun. Berdasarkan data dashboard tax amnesty, total harta yang dilaporkan tersebut terdiri dari deklarasi harta dalam negeri Rp 3.676 triliun dan deklarasi harta luar negeri mencapai
Rp 1.031 triliun. Sementara penarikan dana dari luar negeri (repatriasi) mencapai Rp 147 triliun. Salah satu manfaat hasil tax amnesty tersebut digunakan terbukanya ruang fiskal pemerintah serta injeksi likuiditas perbankan.

Feedback   ↑ x