: WIB    —   
indikator  I  

Menakar sentimen

Oleh Thomas Hadiwinata
Menakar sentimen

Kendati baru berusia delapan tahun, bitcoin pasti tak asing lagi bagi mereka yang peduli dengan urusan membiakkan dana. Penyebabnya apalagi kalau bukan stamina cryptocurrency itu dalam memperbarui rekor harga tertingginya.

Sepanjang tahun ini saja harga bitcoin tumbuh tujuh kali lipat. Harga bitcoin di pasar spot New York, Kamis pekan lalu mencapai US$ 7.392. Setelah menguat 12%, memang kurs bitcoin melemah menjadi US$ 7.025.

Bagi mereka yang masih asing dengan uang kripto, pasti semakin tergoda untuk memasukkan bitcoin dalam portofolionya. Apakah rally harga yang terjadi pekan lalu itu bisa dianggap sebagai bukti keampuhan bitcoin sebagai instrumen pembiak kekayaan?

Mereka yang sudah memiliki bitcoin akan sepenuh hati menjawab ya. Catatan yang pasti tak luput disampaikan adalah kenaikan harga itu dialami bitcoin di saat uang digital itu diterpa berbagai sentimen negatif.

Kabar paling buruk bagi bitcoin tentunya larangan sentral Tiongkok (PBC) terhadap kegiatan operasi bursa uang virtual. Setelah larangan berlaku di mid September, banyak yang menduga harga bitcoin bakal rontok. Prediksi itu muncul karena warga Negeri Tembok Raksasa merupakan salah satu pasar terbesar bagi bitcoin dan uang virtual lainnya.

Koreksi harga bitcoin memang terjadi. Bahkan, nilai tukar uang virtual itu terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sempat rontok hingga US$ 1.000 per 1 bitcoin.

Namun yang tidak sesuai dengan ekspektasi banyak orang, masa koreksi bitcoin sangat pendek. Hanya dalam hitungan harian. Setelah menyentuh titik terendahnya di US$ 3.008 pada mid September, kurs bitcoin yang dikompilasi situs www.coinmarketcap terus menguat. Sebulan setelah menyentuh bottom-nya, kurs bitcoin pun mencapai US$ 5.532.

Feedback   ↑ x
Close [X]