: WIB    —   
indikator  I  

Mencari sosok ideal Dirjen Hubla

Oleh Siswanto Rusdi
( Direktur The National Maritime Institute (Namarin) )
Mencari sosok ideal Dirjen Hubla

Ada hal yang tidak biasa tengah berlangsung di Kementerian Perhubungan (Kemhub). Instansi tersebut tengah mencari figur mengisi posisi Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) yang lowong setelah Antonius Tonny Budiono, KPK cokok. Ya, tidak biasa karena Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terkenal tertutup bagi pegawai luar.

Ketertutupan itu bahkan berlaku pula untuk kalangan internal. Sudah bukan rahasia lagi, bagi pegawai Ditjen Hubla yang tidak berlatar belakang pelaut peluang menapaki jenjang karier bisa jadi tertutup. Ditjen Hubla nampaknya hanya untuk pelaut dan hanya pelaut alumni pendidikan pelaut tertentu saja. Mereka yang berpendidikan dari berbagai lembaga pendidikan umum akan digergaji angin melalui office politics sehingga tak beranjak naik atau paling tidak statis di tempat.

Tentu saja posisi Dirjen bukan posisi sembarangan; ia jauh di atas permainan itu. Tetapi, ia sangat dekat dengan peluang korupsi, di tangannya kebijakan yang digariskan oleh Menteri berikut anggarannya dieksekusi atau diimplementasikan. Oleh sebab itu, upaya mencari figur Dirjen Hubla melalui seleksi terbuka bisa dimaknai sebagai ungkapan putus terhadap praktik koruptif yang berjalan selama ini di sana.  

Praktik koruptif yang sudah berakar tunjang di Ditjen Hubla tidak lantas akan terkikis dengan adanya seorang Dirjen yang dipilih secara terbuka. Namun, paling tidak, figur terpilih lebih memiliki integritas lantaran sudah dibelek lewat serangkaian tes, assessment, dan sebagainya. Tak ketinggalan, kekayaan pribadinya pun ditelisik.

Feedback   ↑ x
Close [X]