: WIB    —   
indikator  I  

Mencemburui optimisme RAPBN 2018

Oleh Ronny P Sasmita
( Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct) )
Mencemburui optimisme RAPBN 2018

DPR sudah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2018 menjadi Undang-Undang. Adapun asumsi makro yang disetujui adalah  pertumbuhan ekonomi 5,4%, inflasi 3,5%, nilai tukar rupiah Rp 13.400 per dollar Amerika Serikat (AS), dan suku bunga SPN tiga bulan 5,2%. Selain itu harga minyak mentah (ICP) US$ 48 per barel, lifting minyak 800.000 barel per hari, dan lifting gas bumi 1,2 juta barel setara minyak per hari.

Sementara itu, target pembangunan yang disetujui Badan Anggaran (Banggar) DPR, yaitu tingkat pengangguran 5%-5,3%, tingkat kemiskinan sebesar 9,5%-10%, ketimpangan 0,38, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 71,5. Secara umum, target pendapatan negara yang disetujui Banggar DPR sebesar Rp 1.894,72 triliun, yang terdiri dari penerimaan perpajakan Rp 1.618,1 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 275,43 triliun, dan penerimaan hibah Rp 1,2 triliun.

Sisi lain, target belanja negara yang disetujui Banggar DPR sebesar Rp 2.220,66 triliun, yang terdiri belanja pemerintah pusat Rp 1.454,49 triliun dan belanja transfer ke daerah dan dana desa Rp 766,16 triliun. Artinya, target defisit anggaran 2018 yang disetujui Rp 325,94 triliun atau 2,19% dari produk domestik bruto (PDB). Sejalan dengan defisit anggaran itu, target pembiayaan juga disetujui sebesar Rp 325,94 triliun.

Secara keseluruhan, RAPBN 2018 terlihat sangat optimistis, terutama terkait dengan asumsi pertumbuhan ekonomi, target penerimaan pajak, dan inflasi. Optimisme dari ketiga sisi tersebut kemudian merembes ke optimisme target pengurangan angka pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan.

Karena target pertumbuhan 5,4%, maka diproyeksikan bisa menekan angka pengangguran dan kemiskinan sekitar 5%-5,3% dan 9,5%-10%. Walhasil, secara umum RAPBN 2018 disahkan dengan penuh keyakinan.

Catatan saya, pertama soal asumsi pertumbuhan ekonomi di level 5,4%. Dari sisi asumsi makro, boleh jadi masih ada celah untuk menorehkan angka tersebut jika, misalnya, konsumsi rumah tangga tetap kuat, investasi tumbuh lebih cepat dan harga komoditas ekspor Indonesia di pasar global terus membaik.

Tetapi dari perkembangan yang ada, terutama sejak awal tahun ini dan prediksi makro sampai awal tahun depan, proyeksi saya untuk pertumbuhan ekonomi 2018 hanya ada di angka 5,2%--5,3% saja.

Mari berkaca pada torehan angka tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama dan kedua 2017, angkanya meradang turun, yakni 5,01%. Dari perkembangan kontributor pertumbuhan ekonomi yang ada (tahun ke tahun), bisa disimpulkan bahwa Indonesia memang membutuhkan pertumbuhan investasi yang besar untuk meraih skenario pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Feedback   ↑ x
Close [X]