kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.612
  • SUN103,52 -0,01%
  • EMAS597.932 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Mendorong produk lokal di bisnis online

Senin, 05 Februari 2018 / 07:31 WIB

Mendorong produk lokal di bisnis online

 Dalam pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan (Kemdag) 2018 pada 31 Januari 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan Kemdag menelusuri produk yang dijual pada situs jual-beli daring (online). Jokowi meminta untuk mulai memeriksa barang yang dijual di toko daring, untuk mengetahui apakah mayoritas barang yang dijual itu produksi lokal atau justru impor. Pemerintah ingin agar pebisnis dagang elektronik (e-commerce) dalam negeri bisa mengutamakan produk lokal.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu di kesempatan terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga pernah menyampaikan bahwa produk di perdagangan daring masih sangat didominasi produk impor. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut hanya 6%-7% yang merupakan kontribusi produk lokal. Sementara itu, seorang pejabat di Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga menyampaikan data kepada media massa bahwa hanya 10% produk makanan via dagang elektronik (dagang-el) merupakan buatan Indonesia.

Transaksi belanja daring saat ini sudah sampai mendekati angka Rp 100 triliun. Memang belum ada data pasti tentang angka tersebut, mengingat pendataannya saat ini baru akan dilakukan secara konkret oleh pemerintah. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo pernah menyampaikan bahwa selama setahun terakhir (2016 hingga 2017) transaksi belanja daring diproyeksikan telah mencapai Rp 75 triliun di Indonesia. Tingginya proyeksi angka ini juga membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bahkan berani memproyeksikan bahwa nilai transaksi dagang-el di Indonesia bisa melampaui US$ 130 miliar atau Rp 1.755 triliun (kurs Rp 13.500) di tahun 2020.

Dengan melihat potensi besar dari transaksi dagang-el di Indonesia, sebenarnya merupakan peluang besar untuk bisa mengangkat perekonomian masyarakat, khususnya lewat penjualan produk lokal. Yang menarik, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang merupakan representasi ekonomi rakyat, memberikan kontribusi sebesar 58% pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Mencermati alasan yang mengemuka terkait dominasi produk impor di dagang-el Indonesia saat ini, sejumlah faktor yang disebutkan menjadi pemicu dominasi tersebut. Antara lain, harga yang lebih murah dibanding produk lokal, lalu produsen dalam negeri belum bisa memenuhi keperluan semua barang seperti aksesoris dawai (gadget). Alasan lainnya, masih ada sejumlah kecil konsumen yang beranggapan menggunakan produk luar negeri jauh lebih bergengsi dibandingkan produk lokal.

Menariknya, nilai investasi asing berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ke sejumlah perusahaan dagang-el dalam negeri sepanjang tahun 2017 telah mencapai US$ 4,8 miliar atau setara dengan dengan Rp 64,32 triliun (kurs Rp 13.400 per dollar AS). Besarnya daya tarik pasar dagang-el di Indonesia juga salah satunya bisa dilihat dari belanja iklan para pemain bisnis dagang-el. Catatan riset iklan Adstensity, nilai belanja iklan industri ini di televisi saja mencapai Rp 1,54 triliun pada 2017 dan belum termasuk di media berita cetak, media berita daring dan media sosial.



Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk
21 March 2018 - 22 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]