: WIB    --   
indikator  I  

Mendorong ultra-mikro berkelanjutan

Oleh Budhi Santoso
( Bekerja di Bank Syariah Mandiri )
Mendorong ultra-mikro berkelanjutan

Dua pekan ke depan, geliat ekonomi tahunan cenderung meningkat. Menyambut, saat, dan setelah hari raya umat Islam, seluruh sendi aktivitas kehidupan sosial di masyarakat mencapai puncaknya. Petani, nelayan, buruh, pegawai, wiraswasta, usaha kecil, menengah, hingga korporasi world class berlomba-lomba menuai berkahnya. Berbagai aktivitas selama masa tersebut telah menjadikan berbagai hiruk-pikuknya bernilai bisnis. Sejak pengaturan distribusi dan harga sembako, lalulintas dan sarana transportasi, pemberian THR hingga aktivitas antrean pembagian zakat, kesemuanya telah turut serta menggairahkan kegiatan ekonomi negeri ini pada berbagai segmen usaha.

Tidak terkecuali, hadirnya beragam usaha mikro dadakan informal lainnya (sebut saja usaha segmen ultra-mikro atau UM) yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan karena semangat mengais rezeki selama bulan Ramadan. Pada bulan ini, lahir produsen baru pangan-kulinari, fesyen hingga berbagai produk usaha jasa, seperti transportasi dan fasilitas amenitas di sekitar objek wisata. Setiap individu sepertinya memiliki magnet kuat berupa gairah tinggi untuk memanfaatkan situasi ini secara kreatif mendapatkan keuntungan (creating crowd-economy).

Sebagai gambaran salah satu stimulus, misalnya Bank Indonesia bahkan harus menyediakan kebutuhan uang tunai menjelang hingga dua pekan paska Idul Fitri, sebesar lebih dari Rp 160,4 triliun pada 2016, dan tercatat selalu meningkat rata-rata 14% setiap tahun.

Berbagai usaha UM informal lainnya yang ada dan tumbuh bergairah pada masa ini merupakan gambaran riil, bahwa semangat kewirausahaan (enterpreneurship) sesungguhnya telah tertanam di masyarakat secara luas. Sehingga momen penting ini, selayaknya dapat dijadikan sarana efektif mengeksekusi satu program khusus inkubasi bisnis nasional. Dengan maksud meningkatkan semangat kewirausahaan serta bertujuan melahirkan usaha mikro kecil (UMK) formal yang memang direncanakan, tereksekusi, terukur dan evaluasinya dapat dijadikan dasar tindak lanjut program berikutnya secara berkelanjutan. Mengapa ini penting?

Disadari atau tidak, direncanakan atau tidak, seluruh pemangku kepentingan negeri ini, nyaris berfokus dan turut serta berperan langsung maupun tidak langsung kepada euforia Lebaran ini. Dari sisi waktu, momen yang berlangsung selama lebih dari sebulan ini, terus akan berulang sepanjang masa. Sehingga, jika momen penting ini dijadikan program nasional, tentu efeknya akan berbeda jika tidak dikemas dalam satu paket kebijakan yang integratif.

Feedback   ↑ x