: WIB    —   
indikator  I  

Mengakselerasi pertumbuhan

Oleh Desmond Silitonga
( Analis Pasar Modal )
Mengakselerasi pertumbuhan

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) Jusuf Kalla (JK) memiliki ambisi besar untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% setiap tahunnya. Namun setelah kabinet Jokowi JK bekerja selama tiga tahun, ambisi tersebut belum bisa terealisasi.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi cenderung menurun. Pada tahun 2015, pertumbuhan sempat merosot hingga 4,88%, meski di tahun 2016 pertumbuhan bangkit lagi menjadi 5,02%.

Namun jika pertumbuhan ekonomi hanya bertahan di kisaran 5%, pemerintah akan kesulitan mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Padahal, ini termasuk program ekonomi Jokowi JK.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, jumlah pencari kerja baru yang masuk ke pasar setiap tahunnya mencapai 1,5 juta-2 juta. Padahal, saat ini setiap 1% pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya bisa menciptakan lapangan kerja untuk 250.000-300.000 orang. Berarti, banyak pencari kerja yang tidak terserap di pasar. Situasi ini jelas meningkatkan jumlah pengangguran.

Mencermati kondisi ini, dalam rapat kabinet terbatas pada 4 April 2017 lalu, Presiden Jokowi kembali mengingatkan semua pembantunya untuk sekuat tenaga bekerja agar mesin pertumbuhan mengalami akselerasi daripada kecepatan yang telah dicetak saat ini.

Pertanyaannya, apakah harapan Jokowi bisa direalisasikan? Di atas kertas tentu bisa. Namun, tantangan yang harus diselesaikan tidak mudah mengingat perekonomian dunia sedang menuju proses konsolidasi dan pemulihan.

Word Economic Outlook (WEO) yang baru-baru ini dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan, tahun ini proses pemulihan ekonomi dunia mulai terjadi.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2017 sebesar 3,5%  atau lebih baik daripada tahun 2016, yaitu 3,1%. Momentum menggeliatnya pertumbuhan ekonomi dunia ini ditopang oleh perekonomian Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara-negara berkembang (emerging market).

Namun sejumlah ketidakpastian masih mengintai, hingga bisa kembali mematahkan momentum pemulihan ekonomi dunia. Risiko itu seperti arah kebijakan ekonomi AS, khususnya jika pemerintahan Donald Trump merealisasikan kebijakan proteksionisme dan gagal mengekseskusi ekspansi belanja.

Risiko lain adalah pengetatan moneter dan rencana penyusutan neraca senilai $ 4,5 triliun oleh The Fed yang bisa memicu gejolak di pasar keuangan.

Risiko lain adalah ketidakpastian politik di Eropa dengan munculnya pemimpin populer yang bisa meningkatkan disintegrasi di kawasan Eropa. Gejolak geopolitik, seperti aksi terorisme dan ketegangan di semenanjung Korea adalah risiko lain yang dicatat IMF.

Feedback   ↑ x
Close [X]