kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.612
  • SUN103,52 -0,01%
  • EMAS597.932 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Mengukur daya tarik skema gross split

Selasa, 16 Mei 2017 / 13:51 WIB

Mengukur daya tarik skema gross split

Untuk meningkatkan investasi hulu migas, Menteri ESDM menerbitkan Permen ESDM No. 8 tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split guna menggantikan skema Production Sharing Contract (PSC) yang berlaku saat ini. Tulisan ini dimaksudkan untuk membandingkan daya tarik skema gross split dengan skema PSC.

Asumsi dasar perhitungan adalah harga minyak US$ 50/ barel, biaya produksi US$ 20/ barel, bagi hasil setelah pajak PSC 15%, PPh 25%, DMO pada harga pasar, bagi hasil dasar gross split 43%, komponen variabel 0% dan komponen progresif 0%. Keuntungan kontraktor dipengaruhi bagi hasil, pajak, harga minyak, dan biaya produksi. Dengan asumsi di atas, keuntungan setelah pajak kontraktor US$ 4,50/ barel untuk skema PSC dan US$ 1,13/ barel untuk skema gross split. Terlihat skema gross split kurang menarik.

Jika pada biaya produksi US$ 20/ barel terjadi kenaikan (penurunan) harga minyak sebesar US$ 1/ barel, maka keuntungan setelah pajak kontraktor akan naik (turun) US$ 0,15/ barel pada skema PSC dan naik (turun) US$ 0,32/barel pada skema gross split. Kenaikan harga minyak di atas US$ 50/ barel akan lebih menguntungkan skema gross split dibandingkan dengan PSC dan penurunan harga di bawah US$ 50/ barel berdampak lebih buruk pada skema gross split dibanding skema PSC.

Karena itu, jika diyakini terjadi kenaikan harga minyak di atas US$ 50/ barel dalam jangka panjang, kontraktor lebih menyukai skema gross split. Sebaliknya, jika terjadi penurunan harga minyak di bawah US$ 50/ barel dalam jangka panjang, skema PSC lebih menarik.

Jika pada harga minyak US$ 50/barel terjadi kenaikan (penurunan) biaya produksi US$ 1/ barel, keuntungan setelah pajak kontraktor turun (naik) sebesar US$ 0,15/ barel pada skema PSC dan sebesar US$ 0,75/ barel untuk skema gross split. Terlihat kenaikan biaya produksi di atas US$ 20/ barel berdampak lebih buruk pada skema gross split dibanding PSC. Sebaliknya, penurunan biaya produksi di bawah US$ 20/ barel lebih menguntungkan gross split dibandingkan dengan skema PSC. Namun mengingat penurunan biaya produksi minyak di Indonesia di bawah US$ 20/ barel kecil kemungkinan, skema PSC lebih menarik.



Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk
21 March 2018 - 22 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]