kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.964
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 -0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Mengupas persoalan transportasi online

Selasa, 17 April 2018 / 14:12 WIB

Mengupas persoalan transportasi online

Masalah ojek online bukan masalah tarif, tapi masalah persaingan sempurna. Kenapa sekarang pendapatan sopir ojek online menjadi sama dengan upah minimum regional (UMR)? prosesnya sederhana.

Saat ojek online baru berdiri, sistem transportasi ini sangat efisien, cepat, mudah, dan murah. Maka penumpang mulai berbondong-bondong beralih ke ojek online. Sementara itu tukang ojek masih sedikit, penumpangnya sudah banyak. Sesuai dengan hukum ekonomi (saat permintaan tinggi dan suplai rendah, maka produsen akan untung besar), pendapatan rata-rata sopir ojek online menjadi sangat tinggi.

Tapi ada hukum ekonomi lainnya, pendapatan yang tinggi, akan menarik orang untuk masuk. Tingginya pendapatan rata-rata sopir ojek online saat itu, bahkan menarik pekerja kantoran alih profesi menjadi sopir ojek online. Pekerjaan sopir dengan gaji manajer kenapa tidak. Maka berbondong-bondonglah orang menjadi sopir ojek online. Walaupun penumpang ojek online terus tumbuh, tapi kalah cepat dengan pertumbuhan sopir ojek online.

Yang tadinya mereka mudah mencari penumpang, mulai sulit mencari penumpang. Persaingan antar sopir ojek online menjadi lebih ketat.

Sampai akhirnya, pendapatan sopir ojek online sama seperti pekerjaan non skilled lainnya atau kurang lebih sama dengan UMR. Karena sudah sama dengan penghasilan rata-rata pekerjaan lainnya, maka tidak ada lagi orang pindah kerja secara besar-besaran menjadi sopir ojek online.

Jadi kondisi pendapatan sopir ojek online saat ini adalah keseimbangan baru. Dan keseimbangan baru ini akan bertahan lama sampai ada sistem baru lainnya yang lebih efisien.

Kalau pemerintah mengikuti aspirasi para sopir ojek online dengan meningkatkan tarif dari Rp 1.250-Rp 1.600 menjadi Rp 4.000, hal yang sama akan terjadi kembali. Penurunan jumlah penumpang akan terjadi tapi tidak terlalu besar karena dengan tarif Rp 4.000 ojek online masih lebih efisien daripada taksi dan lebih cepat daripada angkot.

Pendapatan sopir ojek online akan meningkat lagi melebihi rata-rata penghasilan pekerjaan lainnya. Kemudian orang akan berbondong-bondong daftar menjadi sopir ojek online seperti yang terjadi sebelumnya.

Alih profesi besar-besaran ini akan terus terjadi sampai pendapatan sopir ojek online sama dengan rata-rata pendapatan dari pekerjaan yang lainnya. Proses ini sama persis dengan proses sebelumnya.

Jadi kenaikan tarif tidak akan menaikkan pendapatan sopir ojek online secara permanen. Pendapatan rata-rata sopir ojek online yang mendekati atau sama dengan rata-rata UMR adalah produk dari keseimbangan sistem.

Tidak bisa dalam satu ekosistem ada suatu pekerjaan yang memiliki pendapatan jauh lebih tinggi dari pekerjaan lainnya sementara tidak ada barier untuk alih profesi. Ini tidak bisa dilawan. Pemerintah pun tidak akan bisa mengendalikan keseimbangan sistem alami seperti ini. Setiap intervensi pemerintah akan selalu kembali pada posisi semula.

Akibat lainnya dari menaikkan tarif ojek online adalah jumlah sopir ojek online dan sepeda motor yang parkir di jalan-jalan karena menunggu penumpang menjadi lebih banyak lagi. Jumlah sopir ojek online menjadi lebih banyak. Waktu tunggu mereka menjadi lebih panjang. Jalan-jalan akan makin dipenuhi oleh ojek online yang setengah pengangguran karena terlalu lama menunggu penumpang. Akhirnya ojek online akan menjadi tidak efisien, sama seperti angkot, yang ngetem di mana-mana karena menunggu penumpang terlalu lama.

Alternatif lainnya adalah sistem kuota atau pembatasan jumlah sopir ojek online di Tanah Air. Namun sistem penerapan kuota ini sulit. Saat ini ada dua pengelola ojek online yang dominan setelah Uber diakuisisi oleh Grab (Grab dan Gojek).

Bagaimana cara memberikan kuota pada keduanya? Dua-duanya sedang bersaing meningkatkan inovasi sistem dan layanan untuk meningkatkan okupasi pasar. Yang lebih banyak melakukan inovasi akan tumbuh lebih cepat. Ketika dibatasi kuota, maka mereka tidak perlu lagi membuat inovasi. Karena bukan inovasi yang menjadi dasar tumbuhnya bisnis mereka, tapi kuota. Sistem kuota secara pelan-pelan akan membunuh ojek online sebagaimana saudara tuanya, angkot.

Selama puluhan tahun angkot sama sekali tidak berkembang. Tidak ada inovasi dan peningkatan layanan. Karena untuk meningkatkan okupasi pasar dan meningkatkan ukuran bisnisnya, pengusaha angkot tidak perlu membuat inovasi tapi cukup mengejar kuota trayek.



Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-29,55
6.308,15
-0.47%
 
US/IDR
13.894
0,65
 
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×