| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.463
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menilai optimisme industri manufaktur

Rabu, 21 Februari 2018 / 10:40 WIB

Menilai optimisme industri manufaktur

Tidak ada keraguan terhadap peranan industri manufaktur bagi perekonomian Indonesia. Setidaknya ada tiga ukuran yang menggambarkan kontribusi industri tresebut. Diantaranya adalah sebagai pembentukan produk domestik bruto (PDB), penyerap tenaga kerja hingga meningkatkan nilai ekspor.

Pertama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa saat ini industri manufaktur menjadi kontributor utama dalam PDB nasional, menggeser sektor pertanian. Pada 2017, industri pengolahan berperan hingga 20,16% terhadap PDB. Dari beberapa jenis lapangan usaha, hanya industri pengolahan yang mampu berkontribusi hingga seperlima dari PDB. Sektor pertanian dan perdagangan masing-masing hanya mengisi 13%.

Sayangnya, peranan tersebut semakin menurun dari tahun ke tahun dan tentunya memunculkan kekhawatiran. Pada 2010, kontribusi industri manufaktur sebesar 22,04%; menurun menjadi 21,76% pada 2011. Tiga tahun berikutnya, kontribusi industri manufaktur masing-masing 21,45%; 21,03% dan 21,08%. Sejak 2015 hingga 2017, peranan industri manufaktur semakin mengecil, dari 20,99% menjadi 20,51% dan 20,16% pada 2016 dan 2017.

Dari sisi pertumbuhan, rata-rata pertumbuhan industri manufaktur di bawah pertumbuhan ekonomi. Maka wajar, jika pertumbuhan ekonomi nasional belum mampu bergerak dari 5% dan diiringi kemampuan menyerap tenaga kerja yang rendah.

Sepanjang 2011–2017, pertumbuhan rata-rata industri manufaktur sebesar 4,82%; sedangkan pertumbuhan PDB rata-rata 5,39%. Beruntung, pertumbuhan industri non-migas masih cukup tinggi, rata-rata 5,69% per tahun. Namun demikian, hanya lima kelompok industri yang mampu tumbuh di atas pertumbuhan industri manufaktur secara keseluruhan. Jenis industri tersebut merupakan industri berbasis konsumen seperti industri makanan dan minuman serta industri kimia, industri farmasi, dan obat tradisional.

Kedua, penurunan peranan industri manufaktur terhadap PDB, serta pertumbuhannya yang bergerak di bawah pertumbuhan ekonomi, memberikan sinyal kurang baik bagi penyerapan tenaga kerja. Hingga Agustus 2017, sektor industri mempekerjakan sebanyak 17 juta tenaga kerja atau 14,05% dari total penyerapan tenaga kerja. Sektor manufaktur menjadi penyerap tenaga kerja terbesar keempat setelah sektor pertanian; perdagangan; dan jasa kemasyarakatan. Jika industri manufaktur mampu tumbuh lebih cepat, maka penyerapan tenaga kerja berpotensi bisa naik lebih tinggi.

Ketiga, peranan industri manufaktur terhadap ekspor. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia (62%), India (55%), Thailand dan Vietnam (73%), kontribusi industri manufaktur terhadap ekspor Indonesia tergolong rendah, hanya sekitar 40%.



TERBARU
MARKET
IHSG
44,48
5.917,27
0.76%
 
US/IDR
14.454
-0,45
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×