kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.198
  • SUN98,94 0,36%
  • EMAS616.094 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menimbang IPO perbankan

Senin, 12 Februari 2018 / 16:43 WIB

Menimbang IPO perbankan

Perbankan nasional mengarungi 2017 dengan kegamangan. Kredit hanya tumbuh 8% year on year (y-o-y). Pertumbuhan kredit single digit merupakan pengulangan dari tahun sebelumnya. Di sisi hulu, nasabah perlahan mulai mengurangi simpanan cash karena tren penurunan bunga.

Performa perbankan agaknya kontras dengan pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk kali pertama dalam sejarah menembus level 6.000. Total dana yang berhasil dihimpun di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 276,5 triliun, atau melejit 24% dibandingkan setahun sebelumnya.

Fakta itu memunculkan dugaan terjadi migrasi likuiditas. Naluri ekonomi niscaya membimbing pemilik dana memindahkan simpanannya hingga pola pembiayaan dunia usaha mengalami pergeseran dari perbankan menuju pasar modal.

Secara konseptual, jika pemilik dana tidak menempatkan dananya di perbankan tetapi untuk membeli sekuritas di pasar modal, maka pengurangan dana pihak ketiga (DPK) akan diikuti dengan penurunan kredit yang setara.

Demikian pula, efek kenaikan sekuritas yang diterbitkan korporasi akan netral saat penurunan kredit tersalurkan bank pada surat berharga lainnya.

Dampak perlambatan DPK bagi perbankan tidak terlalu signifikan, jika itu bisa digantikan oleh perolehan dana dari penjualan surat berharga yang diterbitkan. Proposisi konseptual di atas sepertinya terjadi untuk perbankan di Indonesia.

Faktanya, perbankan menyalurkan dananya ke Surat Berharga Negara dan surat utang jangka menengah korporasi. Penurunan laju DPK disiasati bank dengan menjual sertifikat deposito.

Perbankan lebih nyaman mengelola likuiditasnya ke instrumen yang bersifat temporer alih-alih melalui initial public offering (IPO). Tengok saja, dari 37 emiten baru yang masuk BEI di tahun lalu, tidak ada satupun emiten yang berasal dari sektor perbankan.

Sepinya minat bank untuk IPO boleh jadi lantaran industri perbankan masih mengalami ekses likuiditas cukup besar. Jadi, bank menganggap belum memiliki kebutuhan mendesak untuk menambah likuiditas melalui IPO.

Pertimbangan lain adalah perburuan dana melalui IPO berakibat pada mismatch maturity pendanaan. Dana dari pasar modal lazimnya untuk tujuan jangka panjang, sementara penyaluran kredit perbankan tipikal berjangka pendek. Konsekuensinya, bank akan menanggung beban biaya dana yang tidak murah.

Sejalan dengan itu, perbankan saat ini masih konsolidasi diri kendati Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mencabut program pelonggaran restrukturisasi kredit. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang tinggi membuat bank tidak menjadikan ekspansi kredit sebagai prioritas utama.



Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
87,05
5.838,16
1.51%
 
US/IDR
14.192
0,10
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×