: WIB    --   
indikator  I  

Meningkatkan literasi keuangan

Oleh Erna Tigayanti
( Staf pada Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang; Tulisan ini pendapat pribadi )
Meningkatkan literasi keuangan

Tingkat literasi keuangan di Indonesia yang masih rendah menjadi salah satu masalah masih maraknya kasus-kasus penipuan berkedok keuangan. Rendahnya Literasi keuangan jadi modus untuk meraup keuntungan ditengah masyarakat yang memiliki pikiran “jalan pintas” mendapatkan keuntungan berlipat.

Indeks literasi keuangan Indonesia pada tahun 2016 mencapai 29% atau meningkat 7% dari survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tahun 2013. Sementara indeks inklusi keuangan baru mencapai 68%, meningkat dari 60% pada 2013.   Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN dengan seperti Malaysia yang mencapai 66%, Thailand 73%, dan Singapura 98% (World Bank, 2011), tingkat literasi keuangan di Indonesia cukup rendah.

Literasi keuangan adalah pengetahuan mengenai ilmu ekonomi secara sederhana dan konsep-konsep dasar keuangan. Sehingga dengan pengetahuan itu seorang individu memiliki keterampilan keuangan untuk mengelola sumber daya keuangan secara efektif untuk jangka waktu panjang mencapai kesejahteran keuangan.

Dalam mencapai kesejahteraan keuangan, tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan “uang besar” baik melalui investasi-investasi yang menawarkan bunga selangit. Lebih-lebih mendapatkan uang segebok dengan hal-hal yang bersifat irasional, gaib dan sulapan.

Pemahaman terhadap implikasi keuangan menjadi hal yang mendasar dalam memahami manajemen keuangan. Meskipun, tingginya literasi keuangan tidak menjamin bahwa keputusan yang tepat yang dibuat. Hal itu disebabkan karena seseorang tidak selalu mengambil keputusan keuangan berdasarkan rasional ekonomi. John Maynard Keynes menyebut kondisi ini tidak lepas dari perilaku bersifat greedy (tamak) dan fear (takut) atau animal spirit.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, seorang akan mengikuti kelompoknya seperti perilaku hewan. Misalnya, ketika produk keuangan terjun bebas, berduyun-duyun akan menjual produknya (fear). Begitu juga sebaliknya, orang berbondong mendapat keuntungan ketika produk keuangan itu menguntungkan.

Feedback   ↑ x