: WIB    —   
indikator  I  

Menuai berkah smart money

Oleh Budhi Santoso
( Bekerja di Bank Syariah Mandiri )
Menuai berkah smart money

Sejak 2014, Bank Indonesia terus berupaya mendorong penggunaan sistem pembayaran secara elektronik, terutama transaksi ritel.  Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas pada penggunaan instrumen pembayaran non tunai atau less cash society.  BI mencatat saat ini transaksi belanja non tunai baru mencapai porsi 58% dari sebelumnya hanya 31% di akhir 2015, sedangkan negara-negara sekawasan sudah mencapai lebih 80%.  Pada akhir November 2016 tercatat, nilai transaksi non tunai yang dikelola bank dan lembaga selain bank yang menggunakan kartu & uang elektronik (e-money) baru mencapai Rp 18,38 triliun per hari.  

Sebagai ilustrasi, credit card saja sebagai transaksi paling populer mencapai nilai Rp 321 triliun, tumbuh 14,5% dibanding tahun sebelumnya.  Volume e-money hingga akhir 2016 mencapai Rp 7,06 triliun dengan 683,133 juta transaksi. April 2017, tercatat volume e-money mencapai Rp 2,85 triliun dengan 235,61 juta transaksi. Sedangkan, kartu debit saat ini ternyata lebih banyak digunakan hanya untuk penarikan tunai.  Strategi BI saat ini baru sebatas pada aturan main atas penggunaan uang elektronik, perluasan, pengembangan infrastruktur sistem serta integrasi dengan ketentuan BI lainnya.  

Belum ada catatan, apakah ada pengaruh akibat kebijakan pembatasan pemilikan credit card, pelaporan bagi penerbit dan akses investigasi langsung rekening nasabah bank terhadap volume dan jumlah transaksi non tunai.  Namun, kini saatnya otoritas tertinggi mencanangkan program nasional tersebut secara integral.  Agar program tersebut berdampak progresif, diperlukan intervensi yang memayungi seluruh upaya gerakan perubahan transaksi pembayaran tunai menjadi non tunai. Intervensi strategis serta praktis tersebut diyakini efektif jika dilaksanakan terutama menjelang dan selama momen hari raya yang akan datang ini.  Mengapa ?  

Pertama, intensitas, kebiasaan dan sikap belanja masyarakat pada masa ini meningkat signifikan.  Sehingga, ini adalah saat tepat kampanye atas manfaat transaksi elektronik atau digital, terutama terhadap sasaran yang selama ini belum tersentuh. Tentu, pelaksanaannya melibatkan semua pihak, mulai penyedia infrastruktur hingga operator transaksi non tunai atau digital lainnya.  Upaya ini dilakukan untuk mengubah kebiasaan, agar masyarakat tidak perlu ragu menggunakan transaksi non tunai.  Rasa aman dan nyaman bertransaksi adalah aspek utama kampanye.  

Misalnya, pembeli dan penjual harus meyakini tersedianya bukti transaksi tersebut secara realtime dan tersimpan rinciannya.  Simulasinya harus menyentuh aspek pengalaman positif yang langsung dirasakan, terutama oleh pengguna baru.  Prioritas sasaran ditujukan lebih dahulu kepada transaksi terbesar nilai dan volume, tren positif atau jenis transaksi non tunai paling luas cakupannya.  Edukasi khusus bisa ditujukan bagi pengguna komunitas, segmen atau komoditi serta layanan tertentu, sehingga pengguna merasakan pengalaman baru yang dapat ditularkan, dan akhirnya mengubah kebiasaan serta menyebarkan pengalaman transaksi tersebut secara lisan atau menjadi viral-buzzer.

Feedback   ↑ x
Close [X]